Jawa Pos Radar Madiun - Pameran Gaikindo Indonesia International Commercial Vehicle Expo (Giicomvec) 2026 resmi dibuka pada Rabu (8/4) di JIExpo, Jakarta.
Ajang ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan bagi sektor kendaraan niaga nasional yang saat ini tengah menghadapi tantangan berat akibat penurunan produksi.
Berdasarkan data terbaru, industri kendaraan komersial nasional sedang tidak dalam kondisi ideal.
Pada tahun 2023, produksi terkoreksi 3,5 persen dari angka 170 ribu unit menjadi sekitar 164 ribu unit.
Bahkan, utilitas kapasitas produksi pabrik saat ini hanya menyentuh angka 58 persen, yang dinilai berada di bawah batas minimal efisiensi industri.
Sinergi Tiga Pilar untuk Perkuat Logistik Nasional
Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Eko S. A. Cahyanto, menegaskan bahwa Giicomvec 2026 adalah ruang strategis untuk mempertemukan tiga pilar utama meliputi produsen kendaraan, pelaku logistik, dan lembaga pembiayaan.
Sinergi ini dianggap krusial untuk mengembalikan gairah pasar kendaraan komersial.
"Semoga pameran ini memperkuat kolaborasi yang produktif sekaligus menegaskan peran industri kendaraan niaga sebagai penopang utama sistem logistik nasional," ujar Eko saat meresmikan pembukaan pameran tersebut.
Baca Juga: Bukan Cuma HP, Ini Deretan Alat Rumah Tangga Xiaomi Terbaru 2026 yang Bikin Hidup Makin Instan
Stimulus Pajak Plat Kuning dan Dukungan Kendaraan Listrik
Untuk menekan biaya operasional pelaku usaha di tengah tekanan ekonomi, pemerintah mulai menerapkan berbagai skema keringanan pajak.
Salah satu langkah konkretnya adalah penurunan tarif Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan BBNKB hingga 30–70 persen bagi angkutan umum berbadan hukum (plat kuning) di wilayah seperti Jawa Barat.
Selain itu, pemerintah tetap konsisten memberikan stimulus bagi kendaraan niaga berbasis listrik (Battery Electric Vehicle).
Meski insentif impor CBU berakhir pada 2025, dukungan bagi niaga EV terus didorong guna membantu pelaku logistik mencapai efisiensi biaya energi dalam jangka panjang.
Dorong Komponen Lokal dan Restrukturisasi IKM Otomotif
Kementerian Perindustrian juga secara proaktif mendorong keterlibatan Industri Kecil dan Menengah (IKM) komponen otomotif.
Tujuannya jelas: menurunkan biaya produksi dengan mengurangi ketergantungan pada komponen impor agar harga jual kendaraan niaga di pasar menjadi lebih kompetitif.
Pemerintah turut memberikan fasilitas restrukturisasi peralatan pabrik bagi para pelaku IKM.
Hal ini dilakukan agar mereka mampu memenuhi standar kualitas industri besar dan terlibat langsung dalam rantai pasok merek-merek raksasa yang sudah mapan.
Inovasi dari Isuzu hingga Penetrasi Brand EV China
Ajang tahun ini diikuti oleh lebih dari 35 perusahaan industri pendukung yang menampilkan berbagai inovasi terbaru. Brand besar seperti Isuzu dan Mitsubishi Fuso tampak mendominasi dengan memamerkan armada unggulan mereka untuk menarik minat para pengusaha logistik kelas kakap.
Menariknya, tren kendaraan niaga bertenaga listrik semakin menguat. Merek-merek seperti BYD, JAC Motors, dan Farizon mulai menawarkan model niaga EV dengan bonus khusus.
Keunggulan biaya perawatan yang jauh lebih rendah dibandingkan mesin diesel menjadi daya tarik utama bagi para pengusaha yang ingin menekan budget operasional mereka. (rio/naz)
Editor : Mizan Ahsani