Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Perang Teknologi HEV 2026: Intip Senjata Rahasia Changan, Geely, dan Chery Lawan Dominasi Toyota

Suci Oktavia • Kamis, 9 April 2026 | 17:21 WIB
Chery QQ3, mobil listrik murah seharga Rp 100 jutaan. (CHERY)
Chery QQ3, mobil listrik murah seharga Rp 100 jutaan. (CHERY)

Jawa Pos Radar Madiun - Kendaraan listrik hibrida (Hybrid Electric Vehicles/HEV) kembali menjadi fokus strategis produsen mobil Tiongkok pada tahun 2026.

Perusahaan raksasa seperti Changan, Geely, dan Chery mulai agresif mengumumkan sistem dan produk baru untuk menggoyang dominasi global yang selama ini dipegang oleh Toyota.

Langkah ini diambil di tengah persaingan pasar yang sangat ketat, di mana BYD juga terus memperluas jangkauan melalui mobil plug-in hybrid (PHEV) dan listrik murni.

Strategi merek-merek Tiongkok ini menandai babak baru dalam evolusi teknologi mesin ganda di dunia.

Adu Mekanik: Sistem Gigi Planet Toyota vs DHT Tiongkok

Hingga saat ini, Sistem Hibrida Toyota (THS) masih mengandalkan mekanisme power-split berbasis roda planetary gear (gigi planet).

Sistem ini menghubungkan mesin dan roda secara mekanis agar mesin bekerja pada rentang paling efisien dengan bantuan motor listrik. 

Meski sangat irit dan nyaman, teknologi ini memiliki batasan pada tenaga maksimum penggerak listriknya.

Sebaliknya, produsen Tiongkok menggunakan arsitektur berbeda yang disebut Dedicated Hybrid Transmission (DHT).

Dalam sistem seri-paralel ini, penggerak listrik jauh lebih dominan, sementara mesin bensin sering kali hanya bekerja sebagai generator atau masuk pada kecepatan tinggi saja.

Pendekatan ini memungkinkan akselerasi yang jauh lebih bertenaga dibandingkan sistem konvensional.

Baca Juga: Mau Jadi Importir Mobil? Kenali Aturan Main dan Skema Pajak yang Berlaku di Indonesia agar Tidak Boncos

Keunggulan Performa dan Efisiensi Bahan Bakar

Sebagai contoh, sistem Blue Core HEV milik Changan menggunakan dua motor dengan berbagai mode operasi pintar. Hasilnya, HEV asal Tiongkok biasanya dibekali motor listrik yang lebih besar (sekitar 130–180 kW).

Kekuatan ini membuat tarikan mobil terasa lebih "instan" dan kuat layaknya mobil listrik murni.

Dari sisi efisiensi, teknologi Tiongkok ini tidak bisa diremehkan. Konsumsi bahan bakar di area perkotaan diklaim mampu menyentuh angka 2 hingga 3 liter saja per 100 km.

Geely bahkan sudah mematok target konsumsi bahan bakar sekitar 3 liter per 100 km melalui sistem i-HEV terbarunya yang segera meluncur.

Strategi Baterai Kecil untuk Jaga Margin Keuntungan

Salah satu alasan utama peralihan masif ke HEV adalah struktur biaya produksi. Berbeda dengan mobil listrik murni yang membutuhkan baterai raksasa, HEV hanya menggunakan baterai berkapasitas 1–2 kWh.

Hal ini secara otomatis memangkas ketergantungan pada material baterai seperti lithium yang harganya fluktuatif.

Di tengah perang harga kendaraan yang sangat kompetitif di Tiongkok, penggunaan baterai kecil menjadi trik jitu bagi produsen untuk tetap menjaga margin keuntungan tanpa harus menaikkan harga jual ke konsumen.

Chery bahkan mulai bereksperimen dengan baterai 5 kWh untuk mengaburkan batas antara HEV konvensional dan PHEV.

2027 Menjadi Titik Balik Persaingan Global

Meskipun Toyota masih sangat relevan dengan penjualan 11,3 juta unit di tahun 2025, merek-merek Tiongkok memposisikan HEV sebagai pelengkap yang sangat kuat untuk pasar global.

Strategi ini berbeda dengan BYD yang lebih fokus pada elektrifikasi penuh namun tetap bergantung pada teknologi hibrida sebagai jembatan transisi.

Changan dan Geely saat ini tengah menyiapkan produksi massal dan peluncuran komersial dalam waktu dekat.

Dengan teknologi yang lebih bertenaga dan harga yang semakin kompetitif, tahun 2027 diprediksi akan menjadi titik peralihan besar di mana dominasi merek Jepang akan diuji secara total oleh inovasi dari Tiongkok. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#changan #mobil listrik #china #Chery #toyota