Jawa Pos Radar Madiun – Ledakan tren festival musik di Indonesia justru menyisakan celah baru, yakni penipuan berkedok event.
Dalam beberapa waktu terakhir, kasus festival musik bodong maupun konser kian sering muncul dan merugikan penonton.
Dari tiket yang sudah dibayar namun acara tak pernah digelar, hingga daftar artis yang ternyata fiktif—modusnya terus berulang dengan pola serupa.
Tiket Murah Jadi Senjata Utama
Harga menjadi pintu masuk penipuan. Banyak penyelenggara abal-abal menawarkan tiket jauh di bawah standar pasar untuk menarik perhatian.
Baca Juga: Tips Nonton Konser saat Musim Hujan: Nyaman, Aman. Tak Basah Kuyup
Padahal, festival musik berskala besar membutuhkan biaya tinggi—mulai dari artis, panggung, hingga operasional.
Ketika harga terlalu murah, justru itu sinyal awal yang patut dicurigai.
Cek Rekam Jejak Promotor
Langkah paling mendasar adalah menelusuri siapa penyelenggara acara.
Promotor profesional biasanya memiliki portofolio jelas, pernah menggelar event sebelumnya, serta memiliki identitas perusahaan yang bisa diverifikasi.
Jika informasi penyelenggara tidak jelas atau sulit ditemukan, risiko penipuan semakin besar.
Pastikan Ada Izin Resmi
Festival musik tidak bisa digelar tanpa izin. Penyelenggara wajib mengantongi perizinan dari pihak berwenang seperti Polri dan pemerintah daerah.
Ketiadaan informasi izin menjadi tanda kuat bahwa acara tersebut patut dipertanyakan.
Baca Juga: Lokananta Bloc Solo Simpan Jejak Musik Indonesia dari Piringan Hitam ke Era Digital
Gunakan Platform Tiket Resmi
Pembelian tiket harus melalui jalur terpercaya seperti Tiket.com atau Traveloka.
Transaksi langsung ke rekening pribadi tanpa sistem resmi berisiko tinggi, terutama jika terjadi pembatalan atau penipuan.
Verifikasi Lineup Artis
Nama besar sering dijadikan umpan. Pastikan artis yang tercantum benar-benar mengumumkan jadwal tampil melalui akun resmi mereka.
Jika tidak ada konfirmasi dari pihak artis, kemungkinan lineup tersebut hanya strategi promosi palsu.
Perhatikan Aktivitas Media Sosial
Akun resmi festival biasanya aktif dan transparan. Mulai dari update lokasi, jadwal, hingga detail acara. Sebaliknya, akun yang baru dibuat, minim interaksi, dan hanya fokus pada promosi agresif patut diwaspadai.
Penonton Harus Lebih Kritis
Fenomena ini tidak lepas dari rendahnya literasi digital. Banyak calon penonton tergoda tren tanpa melakukan verifikasi mendalam.
Padahal, langkah sederhana seperti mengecek promotor, izin, dan tiket bisa mencegah kerugian besar.
Editor : Andi Chorniawan