Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah gempuran modernitas, masyarakat Jawa masih menyimpan segudang "gugon tuhon" atau pantangan leluhur yang hingga kini masih dihormati.
Salah satu yang paling populer adalah larangan memasak di malam hari. Meski bagi generasi masa kini hal ini terdengar kuno, tradisi ini sebenarnya menyimpan lapisan makna mendalam tentang etika, keselamatan, dan manajemen hidup.
Dalam kosmologi Jawa, malam hari adalah waktu untuk ngaso (istirahat) dan refleksi diri, bukan untuk aktivitas fisik yang berat. Namun, apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh para leluhur melalui pantangan ini?
1. Antara Mitos dan Penjagaan Gaib
Secara tradisional, malam hari sering dimaknai sebagai waktu yang "wingit" atau sakral. Orang tua zaman dahulu meyakini bahwa aktivitas memasak di malam hari dapat mengundang entitas yang tidak diinginkan.
Meskipun terkesan mistis, kepercayaan ini secara psikologis berfungsi sebagai alat kendali sosial agar manusia menghormati waktu istirahat dan tidak "melanggar" ketenangan alam di jam-jam sunyi.
2. Logika Keselamatan di Tengah Keterbatasan
Jika kita membedah pantangan ini secara rasional, alasan utamanya adalah keamanan. Di masa lalu, sumber penerangan hanya mengandalkan pelita atau obor yang minim cahaya.
-
Risiko Kebakaran: Memasak melibatkan api tungku yang besar. Dalam kegelapan, percikan api jauh lebih sulit dikendalikan.
-
Cedera Alat Tajam: Interaksi dengan pisau dan alat masak lainnya dalam kondisi minim cahaya sangat berisiko menimbulkan luka.
Leluhur Jawa menggunakan "bahasa larangan" untuk melindungi anggota keluarganya dari kecelakaan kerja yang fatal di dapur.
3. Kedisiplinan dan Manajemen Waktu
Pantangan ini mengajarkan nilai tertib laku. Masyarakat Jawa diajarkan untuk mengatur waktu dengan saksama. Menyiapkan makanan adalah tugas utama yang idealnya tuntas sebelum matahari terbenam.
Dengan memasak di siang atau sore hari, seseorang menunjukkan bahwa ia mampu mengatur rumah tangga dengan terencana, sehingga malam hari bisa didedikasikan sepenuhnya untuk keluarga dan ibadah.
4. Etika Sosial dan Simbol Keharmonisan
Dapur dalam rumah Jawa bukan sekadar tempat mengolah makanan, melainkan pusat keharmonisan.
-
Menjaga Ketenangan: Suara ulekan, denting kuali, dan aroma masakan yang menyengat di malam hari dianggap kurang etis karena dapat mengganggu tetangga maupun anggota keluarga yang sedang beristirahat.
-
Etika bertamu: Memasak di malam hari juga kerap dianggap sebagai tanda ketidaksiapan tuan rumah dalam menyambut hari, yang dalam kacamata unggah-ungguh dianggap kurang elok.
Relevansi di Era Modern
Memang benar, bagi masyarakat perkotaan dengan kesibukan tinggi, memasak di malam hari seringkali menjadi satu-satunya pilihan.
Namun, inti dari pantangan ini tetaplah relevan, yaitu mengenai kesadaran akan waktu.
Bukan soal takut akan hantu atau api, melainkan tentang bagaimana kita tetap menjaga keteraturan hidup, mengutamakan keselamatan, dan menghormati hak orang lain untuk mendapatkan ketenangan di malam hari. Tradisi ini adalah pengingat bahwa dalam setiap tindakan, ada waktu dan tempat yang tepat. (naz)
Editor : Mizan Ahsani