Jawa Pos Radar Madiun - Dalam khazanah budaya Jawa, terdapat istilah "Lusan" atau singkatan dari Telu karo Sepisan (Tiga dengan Satu). Istilah ini merujuk pada pantangan pernikahan antara anak pertama dengan anak ketiga.
Meski zaman telah berganti ke arah yang lebih rasional, mitos ini sering kali masih menjadi ganjalan serius bagi pasangan yang tengah merencanakan masa depan.
Bagaimana kita harus menyikapi kepercayaan ini di era modern? Mari kita bedah dari berbagai sudut pandang.
1. Sudut Pandang Tradisi: Filosofi dan Weton
Dalam pandangan tradisional, larangan "Lusan" berakar pada kekhawatiran akan ketidakharmonisan.
-
Benturan Karakter: Leluhur Jawa sering memetakan karakter berdasarkan urutan lahir. Anak pertama identik dengan tanggung jawab dan sifat kepemimpinan (strong-willed), sedangkan anak ketiga sering dianggap memiliki jiwa bebas atau cenderung manja. Kombinasi ini dikhawatirkan akan memicu ego yang sulit dipersatukan.
-
Perhitungan Weton: Selain urutan lahir, tradisi Jawa juga sangat memperhatikan Weton (hari lahir). Kombinasi "Lusan" sering kali dianggap memiliki hitungan yang kurang selaras (tibo mlarat atau tibo suwung), yang dikhawatirkan membawa hambatan dalam rezeki atau kesehatan keluarga.
2. Sudut Pandang Psikologi: Komunikasi di Atas Urutan Lahir
Secara ilmiah, tidak ada bukti statistik atau biologis yang mendukung bahwa urutan lahir menentukan kegagalan pernikahan.
-
Kedewasaan Emosional: Psikolog menekankan bahwa keberhasilan rumah tangga ditentukan oleh komitmen, kesiapan emosional, dan kemampuan manajemen konflik.
-
Faktor Lingkungan: Kepribadian seseorang lebih banyak dibentuk oleh pola asuh dan pengalaman hidup daripada sekadar angka urutan kelahiran. Seorang anak ketiga bisa saja sangat mandiri, dan seorang anak pertama bisa saja sangat fleksibel.
Baca Juga: Mengapa Menikah di Bulan Suro Dilarang? Menelusuri Jejak Spiritual dan Tradisi Jawa
3. Makna Simbolis: Nasihat untuk Berhati-hati
Alih-alih dianggap sebagai kutukan, banyak budayawan menilai pantangan ini sebagai pesan waspada. Leluhur ingin mengingatkan bahwa menyatukan dua latar belakang kepribadian yang berbeda membutuhkan usaha ekstra.
-
Penghormatan Keluarga: Menjalankan atau mempertimbangkan pantangan ini sering kali dilakukan demi menjaga ketenangan batin orang tua dan keharmonisan hubungan antar keluarga besar.
Kesimpulan: Mitos atau Fakta?
Secara medis dan ilmiah, larangan ini adalah Mitos. Namun, secara budaya, ia adalah Simbol Kearifan Lokal yang mengingatkan pasangan untuk lebih dalam mengenal karakter satu sama lain sebelum berkomitmen.
Di era modern, banyak pasangan "Lusan" yang tetap menikah dan hidup harmonis. Kuncinya adalah tidak membiarkan mitos menjadi sugesti negatif, melainkan menjadikannya motivasi untuk membangun komunikasi yang lebih kuat guna membuktikan bahwa cinta dan kerja keras mampu melampaui ramalan apa pun. (naz)
Editor : Mizan Ahsani