Jawa Pos Radar Madiun - Pengembangan teknologi baterai nuklir untuk kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) menjadi topik hangat di dunia otomotif.
Teknologi ini menjanjikan solusi radikal atas dua kelemahan utama EV saat ini: keterbatasan jarak tempuh dan waktu pengisian daya yang lama.
Meskipun saat ini lebih dekat untuk diaplikasikan pada sensor IoT atau alat pacu jantung, potensi baterai nuklir sebagai Range Extender (penambah jarak tempuh) bagi mobil listrik sedang dalam tahap riset intensif.
1. Bagaimana Cara Kerjanya?
Berbeda dengan reaktor nuklir skala besar, baterai nuklir untuk perangkat mobilitas menggunakan teknologi Betavoltaic.
Isotop radioaktif (seperti Tritium atau Karbon-14) melepaskan partikel beta (elektron berenergi tinggi).
Partikel beta ditangkap oleh lapisan semi-konduktor berbasis berlian buatan untuk menghasilkan arus listrik searah (DC).
Karena waktu paruh isotop mencapai puluhan tahun, baterai ini secara teoritis tidak perlu diisi ulang selama masa pakai kendaraan.
2. Terobosan Terbaru: Baterai Berlian
Beberapa perusahaan rintisan (startup) global mulai memamerkan purwarupa mereka.
Betavolt (Tiongkok) memamerkan modul miniatur yang diklaim mampu menyuplai daya selama 50 tahun.
Fokus awal adalah perangkat elektronik, namun visi jangka panjangnya mencakup integrasi pada modul kendaraan.
Sementara itu, NDB (Nano Diamond Battery) yang notabene perusahaan asal AS mengolah limbah nuklir menjadi baterai berlian sintetis yang aman dan tahan lama untuk berbagai industri.
Baca Juga: Mewah dan Privat! Rahasia Modifikasi Interior Mobil Travel yang Kini Jadi Tren di 2026
3. Keunggulan Baterai Nuklir vs Lithium-ion
| Fitur | Manfaat Utama |
| Zero Charging | Tidak butuh SPKLU; mobil selalu dalam kondisi "penuh". |
| Kepadatan Energi | Jauh lebih tinggi daripada baterai Lithium-ion konvensional. |
| Ketahanan Ekstrem | Performa tidak terpengaruh oleh suhu cuaca panas atau dingin. |
| Daur Ulang | Memanfaatkan limbah nuklir menjadi sumber energi bersih. |
4. Tantangan Besar Menuju Produksi Massal
Meski menjanjikan, ada hambatan kritis sebelum teknologi ini tersedia.
Pertama, output daya rendah. Saat ini, sel betavoltaic menghasilkan arus listrik kecil. Dibutuhkan jutaan sel untuk menggerakkan mobil, yang membuat biaya produksinya sangat mahal.
Kedua, keamanan dan persepsi publik.
Kekhawatiran akan radiasi dan potensi kebocoran saat terjadi kecelakaan hebat tetap menjadi isu utama bagi masyarakat dan regulator.
Ketiga,regulasi yang ketat. Distribusi material radioaktif pada produk konsumen memerlukan izin keamanan nasional dan internasional yang sangat rumit.
Baterai nuklir mungkin tidak akan menggantikan sistem baterai konvensional secara total dalam waktu dekat.
Namun, dalam satu atau dua dekade mendatang, teknologi ini diprediksi akan muncul sebagai komponen pendukung yang membuat mobil listrik benar-benar bebas dari kabel pengisi daya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani