Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mitos Kejatuhan Cicak Menurut Islam dan Primbon Jawa: Pertanda Sial atau Kebetulan?

Bagas Bimantara • Senin, 13 April 2026 | 12:12 WIB
Mitos Kejatuhan Cicak Menurut Islam dan Primbon Jawa. (ILUSTRASI/PINTEREST)
Mitos Kejatuhan Cicak Menurut Islam dan Primbon Jawa. (ILUSTRASI/PINTEREST)

Jawa Pos Radar Madiun – Kejadian kejatuhan cicak secara tiba-tiba sering kali membuat seseorang merasa was-was. Sebagian besar masyarakat Indonesia masih mempercayai mitos bahwa hal tersebut merupakan isyarat dari alam semesta.

Namun, bagaimana sebenarnya tradisi Primbon Jawa dan ajaran Islam memandang fenomena ini? Apakah benar-benar ada hubungannya dengan nasib, atau sekadar peristiwa biologis biasa? Mari kita bahas perbedaannya.

Makna Kejatuhan Cicak Menurut Primbon Jawa

Dalam tradisi Primbon, posisi jatuhnya cicak pada bagian tubuh tertentu diyakini memiliki tafsir yang berbeda-beda:

Baca Juga: Rekomendasi Skincare untuk Anak-Anak: Aman, Lembut, dan Bebas Iritasi!

Jatuh di Kepala atau Pundak: Sering dianggap sebagai isyarat akan datangnya rintangan hidup, gangguan kesehatan, atau kabar kurang menyenangkan.

Jatuh di Tangan Kiri: Diartikan sebagai pertanda akan adanya hambatan dalam pekerjaan atau pengeluaran keuangan yang tak terduga.

Jatuh di Tangan Kanan: Berbeda dari sebelumnya, posisi ini sering dianggap sebagai pertanda baik, seperti datangnya peluang baru atau rezeki yang mendekat.

Cicak Jatuh dalam Keadaan Mati: Mitos ini dianggap sebagai peringatan akan adanya musibah yang lebih serius bagi orang yang terkena.

Pandangan Islam: Menghindari Tathayyur

Berbeda dengan tradisi lisan atau ramalan, Islam tidak mengaitkan kejadian fisik seperti kejatuhan hewan dengan nasib seseorang.

1. Konsep Tathayyur

Mempercayai bahwa kejadian tertentu (seperti cicak jatuh atau suara burung) membawa kesialan disebut dengan tathayyur. Dalam ajaran Islam, meyakini pertanda sial seperti ini sangat tidak dianjurkan karena dapat mengganggu akidah dan membuat seseorang berprasangka buruk pada takdir.

2. Penjelasan Ulama

Pendakwah Buya Yahya menjelaskan bahwa kejatuhan cicak hanyalah kebetulan murni. Gravitasi atau licinnya permukaan dinding adalah penyebab fisik cicak jatuh, dan hal tersebut sama sekali tidak memiliki hubungan dengan takdir baik atau buruk seseorang yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT.

Cicak dalam Islam: Kebersihan di Atas Mitos

Islam memandang cicak sebagai hewan fawaisiq (hewan pengganggu). Anjuran untuk membunuh cicak dalam Islam sebenarnya memiliki dimensi kesehatan dan sejarah:

Baca Juga: Kemenhan Gembleng ASN Lewat Komcad, Cetak Karakter Berjiwa Korsa dalam 1,5 Bulan

Menjaga Kebersihan: Cicak sering membawa kotoran dan bakteri di tempat-tempat yang sulit dijangkau, sehingga keberadaannya di rumah berisiko bagi kesehatan lingkungan.

Sisi Historis: Terdapat riwayat yang menyebutkan cicak membantu meniup api saat Nabi Ibrahim AS dibakar, yang menjadikannya simbol hewan yang tidak menyukai kebaikan.

Perbedaan pandangan antara Primbon Jawa dan Islam terletak pada interpretasi maknanya. Primbon menggunakan kejadian ini sebagai "alarm" atau isyarat waspada terhadap nasib, sementara Islam menekankan pada aspek logika kebersihan dan kepercayaan sepenuhnya pada Tuhan tanpa terikat ramalan.

Secara medis, kejatuhan cicak sebaiknya segera direspon dengan membersihkan bagian tubuh yang terkena, karena kotoran atau kulit cicak bisa saja mengandung bakteri seperti Salmonella.

Editor : Nur Wachid
#mitos kejatuhan cicak #arti kejatuhan cicak primbon jawa #kejatuhan cicak menurut islam #apakah kejatuhan cicak pertanda sial #makna cicak jatuh di kepala