Jawa Pos Radar Madiun – Siapa yang tidak kenal kerokan? Metode pengobatan tradisional menggunakan koin dan minyak ini telah menjadi andalan keluarga Indonesia saat merasa "masuk angin", meriang, atau pegal-pegal. Banyak yang percaya bahwa semakin merah garis yang dihasilkan, semakin banyak pula "angin" yang berhasil dikeluarkan.
Namun, benarkah ada angin yang terjebak di dalam otot dan keluar melalui pori-pori? Secara medis, fenomena ini memiliki penjelasan yang sangat berbeda. Mari kita bedah mitos dan fakta seputar kerokan.
Membedah Mitos: Mengapa Kulit Menjadi Merah?
Mitos yang paling umum adalah warna merah menandakan angin keluar. Faktanya, garis merah tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan gas atau angin.
Baca Juga: Mitos Menyapu Malam Hari dan Suami Brewokan: Benarkah Pengaruhi Jodoh dan Rezeki?
Pecahnya Pembuluh Darah (Inflamasi Ringan): Garis merah atau kehitaman setelah kerokan sebenarnya adalah memar ringan akibat pecahnya pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit.
Warna Bukan Indikator: Warna yang semakin pekat bukan tanda anginnya "jahat" atau banyak, melainkan tanda adanya pelebaran pembuluh darah yang lebih luas atau tekanan kerokan yang lebih kuat.
Fakta: Mengapa Tubuh Terasa Nyaman Setelah Kerokan?
Meskipun tidak mengeluarkan angin, kerokan memang memberikan manfaat bagi kenyamanan tubuh melalui proses biologis berikut:
1. Efek Relaksasi dan Pereda Nyeri
Gesekan berulang pada permukaan kulit merangsang ujung saraf dan memicu pelepasan hormon endorfin. Hormon ini adalah pereda nyeri alami tubuh yang membuat kita merasa lebih tenang, hangat, dan rileks.
Baca Juga: Mitos Potong Kuku Malam Hari: Benarkah Bisa Memperpendek Umur atau Sekadar Pamali?
2. Meningkatkan Aliran Darah
Kerokan menyebabkan suhu di area yang dikerok meningkat (vasodilatasi). Aliran darah yang lebih lancar membantu membawa oksigen dan nutrisi ke otot-otot yang tegang, sehingga rasa pegal perlahan berkurang.
Risiko dan Hal yang Perlu Diwaspadai
Walaupun tergolong aman sebagai perawatan rumahan, kerokan memiliki beberapa risiko jika dilakukan secara sembarangan:
Iritasi dan Infeksi: Kerokan yang terlalu keras dapat merusak lapisan pelindung kulit, menyebabkan luka mikroskopis yang menjadi pintu masuk bakteri.
Risiko Pori-Pori Membesar: Melakukan kerokan terlalu sering di area yang sama dapat membuat pori-pori kulit tampak lebih besar dan kulit menjadi lebih sensitif.
Bukan Pengobatan Utama: Kerokan hanya meredakan gejala (symptomatic treatment). Jika meriang disebabkan oleh infeksi virus (seperti flu atau DBD), kerokan tidak akan menyembuhkan penyebab utamanya.
Kapan Harus Menghindari Kerokan?
Segera konsultasikan ke dokter dan hindari kerokan jika Anda mengalami:
Gangguan pembekuan darah atau sedang mengonsumsi obat pengencer darah.
Luka terbuka atau penyakit kulit di area yang akan dikerok.
Nyeri dada yang tajam (bisa jadi tanda masalah jantung, bukan sekadar masuk angin).
Kerokan tidak mengeluarkan angin, melainkan bekerja melalui stimulasi saraf dan pembuluh darah. Metode ini aman dilakukan sebagai pertolongan pertama untuk membuat tubuh lebih rileks, namun tetap harus diimbangi dengan istirahat cukup dan asupan cairan yang memadai.
Editor : Nur Wachid