Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Cotard’s Syndrome: Saat Seseorang Merasa Dirinya Sudah Tidak Ada

Rimba Febriani • Kamis, 16 April 2026 | 15:06 WIB
Cotard’s Syndrome. (ISTIMEWA)
Cotard’s Syndrome. (ISTIMEWA)

Jawa Pos Radar Madiun - Cotard’s syndrome adalah gangguan mental langka yang membuat penderitanya memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya sudah meninggal, tidak memiliki organ, atau bahkan tidak pernah ada. Kondisi ini sering disebut sebagai “walking corpse syndrome” atau sindrom mayat berjalan.

Meski terdengar tidak masuk akal, bagi penderitanya kondisi ini terasa sangat nyata dan dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.

Gejala Cotard’s Syndrome yang Perlu Diwaspadai

Gejala Cotard’s syndrome umumnya berkaitan dengan delusi nihilistik, yaitu keyakinan bahwa diri atau dunia tidak nyata. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi:

Merasa sudah meninggal atau tidak ada

Baca Juga: Tanda-Tanda Kolesterol Tinggi yang Sering Tidak Disadari

Menganggap organ tubuh hilang atau tidak berfungsi

Tidak mau makan, minum, atau merawat diri

Menarik diri dari lingkungan sosial

Putus asa mendalam dan kehilangan minat hidup

Melakukan tindakan berisiko tanpa memikirkan keselamatan

Gejala ini sering menyerupai depresi berat atau psikosis, sehingga diagnosis yang tepat sangat penting.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab pasti Cotard’s syndrome belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan pada area otak yang mengatur emosi dan persepsi diri, seperti amigdala dan girus fusiform.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:

Baca Juga: Kepala Terasa Berputar: Penyebab dan Cara Mengatasiny

Depresi berat, bipolar, atau skizofrenia

Cedera otak, stroke, atau tumor

Demensia

Ketidakseimbangan zat kimia di otak

Efek samping obat tertentu

Kondisi ini lebih sering ditemukan pada usia di atas 50 tahun, tetapi tetap bisa terjadi pada usia muda, terutama dengan riwayat gangguan mood.

Cara Diagnosis Cotard’s Syndrome

Diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan melalui pemeriksaan menyeluruh, seperti:

Wawancara mendalam terkait pikiran dan perilaku

Pemeriksaan fisik dan saraf

Baca Juga: Samsung Siapkan Galaxy Z TriFold Wide: Ponsel Lipat Tiga dengan Layar Lebih Lebar dan Proporsional

Tes penunjang seperti CT scan atau MRI

Evaluasi psikologis untuk membedakan dengan gangguan lain

Penilaian yang akurat penting untuk menentukan penanganan yang tepat.

Penanganan Cotard’s Syndrome

Penanganan Cotard’s syndrome biasanya melibatkan kombinasi terapi medis dan psikologis, antara lain:

Obat-obatan seperti antidepresan, antipsikotik, atau penstabil mood

Terapi kejut listrik (ECT) pada kasus berat

Psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku (CBT)

Perawatan kondisi fisik untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi

Pendekatan yang tepat dapat membantu penderita kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.

Baca Juga: Gaya Hidup Sehari-hari dan Dampaknya terhadap Kesehatan Tubuh Secara Menyeluruh

Risiko dan Komplikasi

Tanpa penanganan, Cotard’s syndrome dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti:

Kekurangan nutrisi dan cairan

Infeksi akibat kurang menjaga kebersihan

Isolasi sosial

Risiko tinggi tindakan berbahaya, termasuk bunuh diri

Karena itu, penanganan sejak dini sangat penting.

Pentingnya Dukungan dan Kepedulian

Menghadapi Cotard’s syndrome bukan hal yang mudah, baik bagi penderita maupun keluarga. Dukungan emosional yang konsisten sangat berperan dalam proses pemulihan.

Memberikan perhatian, menciptakan rasa aman, dan mendorong penderita untuk mendapatkan bantuan profesional adalah langkah penting yang dapat dilakukan.

Editor : Rimba Febriani
#Cotard syndrome #sindrom mayat berjalan #depresi berat #gangguan kejiwaan