Jawa Pos Radar Madiun - Cotard’s syndrome adalah gangguan mental langka yang membuat penderitanya memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya sudah meninggal, tidak memiliki organ, atau bahkan tidak pernah ada. Kondisi ini sering disebut sebagai “walking corpse syndrome” atau sindrom mayat berjalan.
Meski terdengar tidak masuk akal, bagi penderitanya kondisi ini terasa sangat nyata dan dapat berdampak serius pada kesehatan fisik maupun mental.
Gejala Cotard’s Syndrome yang Perlu Diwaspadai
Gejala Cotard’s syndrome umumnya berkaitan dengan delusi nihilistik, yaitu keyakinan bahwa diri atau dunia tidak nyata. Beberapa tanda yang sering muncul meliputi:
Merasa sudah meninggal atau tidak ada
Baca Juga: Tanda-Tanda Kolesterol Tinggi yang Sering Tidak Disadari
Menganggap organ tubuh hilang atau tidak berfungsi
Tidak mau makan, minum, atau merawat diri
Menarik diri dari lingkungan sosial
Putus asa mendalam dan kehilangan minat hidup
Melakukan tindakan berisiko tanpa memikirkan keselamatan
Gejala ini sering menyerupai depresi berat atau psikosis, sehingga diagnosis yang tepat sangat penting.
Penyebab dan Faktor Risiko
Penyebab pasti Cotard’s syndrome belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini diduga berkaitan dengan gangguan pada area otak yang mengatur emosi dan persepsi diri, seperti amigdala dan girus fusiform.
Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko antara lain:
Baca Juga: Kepala Terasa Berputar: Penyebab dan Cara Mengatasiny
Depresi berat, bipolar, atau skizofrenia
Cedera otak, stroke, atau tumor
Demensia
Ketidakseimbangan zat kimia di otak
Efek samping obat tertentu
Kondisi ini lebih sering ditemukan pada usia di atas 50 tahun, tetapi tetap bisa terjadi pada usia muda, terutama dengan riwayat gangguan mood.
Cara Diagnosis Cotard’s Syndrome
Diagnosis dilakukan oleh dokter spesialis kejiwaan melalui pemeriksaan menyeluruh, seperti:
Wawancara mendalam terkait pikiran dan perilaku
Pemeriksaan fisik dan saraf
Baca Juga: Samsung Siapkan Galaxy Z TriFold Wide: Ponsel Lipat Tiga dengan Layar Lebih Lebar dan Proporsional
Tes penunjang seperti CT scan atau MRI
Evaluasi psikologis untuk membedakan dengan gangguan lain
Penilaian yang akurat penting untuk menentukan penanganan yang tepat.
Penanganan Cotard’s Syndrome
Penanganan Cotard’s syndrome biasanya melibatkan kombinasi terapi medis dan psikologis, antara lain:
Obat-obatan seperti antidepresan, antipsikotik, atau penstabil mood
Terapi kejut listrik (ECT) pada kasus berat
Psikoterapi, seperti terapi kognitif perilaku (CBT)
Perawatan kondisi fisik untuk mencegah dehidrasi dan malnutrisi
Pendekatan yang tepat dapat membantu penderita kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Baca Juga: Gaya Hidup Sehari-hari dan Dampaknya terhadap Kesehatan Tubuh Secara Menyeluruh
Risiko dan Komplikasi
Tanpa penanganan, Cotard’s syndrome dapat menimbulkan komplikasi serius, seperti:
Kekurangan nutrisi dan cairan
Infeksi akibat kurang menjaga kebersihan
Isolasi sosial
Risiko tinggi tindakan berbahaya, termasuk bunuh diri
Karena itu, penanganan sejak dini sangat penting.
Pentingnya Dukungan dan Kepedulian
Menghadapi Cotard’s syndrome bukan hal yang mudah, baik bagi penderita maupun keluarga. Dukungan emosional yang konsisten sangat berperan dalam proses pemulihan.
Memberikan perhatian, menciptakan rasa aman, dan mendorong penderita untuk mendapatkan bantuan profesional adalah langkah penting yang dapat dilakukan.
Editor : Rimba Febriani