Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah gempuran modernisasi, tradisi "dipingit" bagi calon pengantin perempuan tetap eksis di tanah Jawa.
Bagi sebagian masyarakat, ritual ini bukan sekadar membatasi ruang gerak, melainkan sebuah simbol perjalanan spiritual seorang perempuan menuju fase kehidupan baru.
Secara filosofi, dipingit adalah masa penyucian diri.
Calon mempelai perempuan diajak untuk menarik diri dari hiruk-pikuk dunia luar guna mempersiapkan lahir dan batin.
Baca Juga: M.I.A. Umumkan Album “M.I.7”, Rilis 17 April 2026 dengan Konsep Spiritual
Momen ini menjadi ruang untuk introspeksi diri, menenangkan pikiran, dan memperbanyak doa.
Harapannya, kondisi batin yang tenang akan memancarkan energi positif saat membina rumah tangga kelak.
Dipingit adalah bentuk perlindungan. Bukan hanya fisik, tapi juga menjaga kesiapan mental calon istri agar lebih mantap saat melangkah ke pelaminan
Selain aspek spiritual, masa ini juga dimanfaatkan untuk perawatan diri tradisional agar calon pengantin tampil prima dan memberikan kejutan (manglingi) di hari pernikahan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani