Jawa Pos Radar Madiun – Memasuki tahun 2026, kekuatan algoritma TikTok dalam menciptakan tren kuliner baru belum memudar. Hanya butuh satu video estetik dengan audio yang pas untuk membuat sebuah gerai makanan dipadati antrean mengular. Namun, seiring dengan banyaknya tren yang datang dan pergi, muncul sebuah istilah yang kian sering didengar: Overrated.
Banyak pembeli yang akhirnya merasa kecewa setelah berkorban waktu dan tenaga demi mencicipi makanan yang tengah viral. Fenomena ini membuktikan bahwa visual yang memanjakan mata di layar ponsel sering kali tidak berbanding lurus dengan kualitas rasa di lidah.
Daftar "Tersangka" Makanan Viral yang Sering Dianggap Overrated
Berdasarkan ulasan jujur para penikmat kuliner sepanjang tahun ini, berikut beberapa makanan yang dinilai terlalu dibesar-besarkan:
Baca Juga: Morning Routine Pekerja Kantoran: Antara Niat Produktif dan Realita Kejar Setoran
1. Cromboloni: Estetika di Atas Tekstur
Perpaduan antara croissant dan bomboloni ini memang juara secara visual, terutama saat krim melimpah keluar ketika dibelah. Namun, banyak kritikus kuliner menilai bahwa fokus pada isian krim sering kali mengorbankan tekstur pastry yang seharusnya renyah dan berlapis (flaky). Hasilnya? Rasanya sering kali hanya seperti roti biasa dengan selai yang terlalu banyak.
2. Mie Pedas "Lautan Antrean"
Siapa yang tidak tahu gerai mie pedas dengan harga sangat terjangkau? Meski selalu ramai, banyak yang mulai menyadari bahwa waktu tunggu hingga berjam-jam tidak sebanding dengan rasa mie yang standar. Bagi sebagian orang, sensasi pedas yang ditawarkan justru menutupi bumbu asli makanannya.
Baca Juga: Jangan Diabaikan! Ini Batas Aman Penggunaan Gadget Agar Mata Tidak Cepat Rusak
3. Thai Milk Bun: Manis yang Melelahkan
Roti lembut ala Thailand dengan taburan bubuk susu ini sempat menjadi primadona. Sayangnya, banyak konsumen mengeluhkan rasa manis yang terlalu pekat (enek). Tanpa variasi tekstur, menyantap satu porsi milk bun sendirian sering kali terasa membosankan di tengah jalan.
4. Keju Lumer Berlebihan (Cheese Overload)
Mulai dari corndog hingga dimsum yang "diselimuti" mozzarella cair. Secara konten, tarikan keju yang panjang memang menarik (Instagrammable). Namun secara rasa, keju yang berlebihan cenderung menutupi rasa asli bahan utamanya, membuat semua makanan terasa sama: hanya rasa asin lemak keju.
Baca Juga: Hati-Hati! Mata Bisa Rusak Tanpa Disadari Akibat Terlalu Lama Menatap Gadget
5. Dessert Box & Brownies Lumer
Tren cokelat yang meluber memang menggoda di layar. Namun, banyak dessert box viral yang menggunakan cokelat kualitas standar dengan kadar gula sangat tinggi. Bagi pencinta dessert sejati, keseimbangan rasa antara pahit cokelat dan manis krim adalah kunci yang sering hilang di sini.
Kenapa Kita Sering Terjebak Tren "Overrated"?
Ada beberapa alasan di balik fenomena ini:
Visual vs Rasa: Di era media sosial, tampilan makanan (food styling) lebih diutamakan agar laku dipasarkan secara digital.
FOMO (Fear of Missing Out): Keinginan untuk tidak ketinggalan tren membuat orang rela mengabaikan ulasan objektif.
Harga yang Tidak Sebanding: Kadang, harga mahal dipatok hanya karena makanan tersebut sedang "naik daun", bukan karena kualitas bahan bakunya.
Tips Menikmati Kuliner Viral Tanpa Kecewa
Agar Anda tidak sekadar menjadi korban tren, cobalah tips berikut:
Cek Ulasan Jujur: Jangan hanya percaya pada video endorsement. Cari ulasan dari akun yang dikenal jujur atau lihat kolom komentar.
Suaikan Ekspektasi: Ingatlah bahwa selera adalah hal subjektif. Apa yang enak bagi orang lain, belum tentu cocok di lidah Anda.
Tunggu Tren Mereda: Jika sebuah makanan benar-benar enak, gerainya akan tetap bertahan bahkan setelah trennya lewat. Menunggu antrean berkurang akan membuat pengalaman makan Anda jauh lebih nyaman.
Makanan viral TikTok di tahun 2026 membuktikan bahwa media sosial adalah alat pemasaran yang sangat kuat, namun lidah tidak bisa berbohong. Mencoba makanan viral boleh-boleh saja, asalkan kita tetap kritis dan bijak dalam memilih. Pada akhirnya, makanan terbaik adalah makanan yang memberikan kepuasan di lidah, bukan sekadar foto cantik di galeri ponsel.
Editor : Nur Wachid