Jawa Pos Radar Madiun - Tren kendaraan ramah lingkungan di Indonesia menghadapi tantangan besar di pasar sekunder. Pasalnya, depresiasi harga mobil listrik (EV) bekas generasi pertama, khususnya yang telah memasuki usia 3 hingga 5 tahun, tercatat masih sangat tinggi. Penurunan nilai jual ini bahkan menyentuh angka 50 persen atau lebih dari harga barunya.
Baca Juga: Komentari Aturan Baru Pajak Mobil Listrik, Gaikindo: Sama-Sama Pakai Jalan, Adil Jika Bayar Pajak
Kondisi ini tergolong ekstrem jika dibandingkan dengan mobil konvensional yang rata-rata hanya mengalami depresiasi di angka 15 hingga 25 persen. Sebagai gambaran, unit Hyundai Ioniq 5 keluaran 2022-2023 yang awalnya dibanderol Rp 800 jutaan, kini mulai banyak ditemui di pasar mobil bekas dengan harga kisaran Rp 400 hingga Rp 500 jutaan saja.
Anjloknya harga jual kembali ini dipicu oleh beberapa faktor krusial. Salah satunya adalah kecemasan konsumen terhadap kesehatan baterai (State of Health/SoH) yang merupakan komponen termahal dalam sebuah EV. Selain itu, pesatnya perkembangan teknologi baterai serta perang harga unit baru yang dilakukan produsen otomotif membuat model lama terasa cepat usang dan kehilangan nilai tawarnya.
Meski depresiasi nilai sisa seperti pada Wuling Air EV tercatat hanya di angka 44-51 persen dalam waktu singkat, membeli mobil listrik bekas sebenarnya bisa menjadi peluang bagi konsumen yang ingin beralih ke EV dengan harga terjangkau. Teknologi yang diusung mobil berusia 3-5 tahun sebenarnya masih sangat mumpuni untuk mobilitas harian.
Baca Juga: Pajak Tahunan Wuling Air EV: Dulu Hanya Rp 143 Ribu, Simak Daftar Terbarunya di 2026
Namun, bagi calon pembeli, langkah kewaspadaan sangat diperlukan. Sangat disarankan untuk melakukan inspeksi baterai secara menyeluruh di bengkel resmi guna memastikan SoH masih berada di angka ideal, minimal di atas 90-95 persen. Selain itu, pastikan apakah garansi baterai yang biasanya berlaku 8 tahun masih dapat diklaim oleh pemilik kedua atau tidak.(*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani