Jawa Pos Radar Madiun - Tren pola makan sehat kini mengungkap fakta mengejutkan tentang kebiasaan mengonsumsi nasi yang sudah didinginkan atau nasi kemarin.
Meskipun sering dianggap sebagai "nasi sisa", nasi jenis ini ternyata memiliki keunggulan medis yang signifikan, terutama bagi penderita diabetes.
Secara ilmiah, nasi yang telah dimasak lalu didinginkan mengalami proses perubahan struktur pati yang disebut dengan retrogradasi. Proses ini menghasilkan pati resisten (resistant starch).
Mengapa Nasi Kemarin Lebih Baik?
Pati resisten memiliki karakteristik unik dibandingkan karbohidrat biasa:
-
Sulit Dicerna: Berbeda dengan nasi panas yang cepat diubah menjadi glukosa, pati resisten tidak mudah dipecah oleh enzim pencernaan.
-
Penyerapan Lambat: Karena sulit dicerna, penyerapan gula ke dalam aliran darah menjadi lebih lambat dan bertahap.
-
Mencegah Lonjakan Gula Darah: Hal ini sangat menguntungkan bagi penderita diabetes untuk menghindari lonjakan glukosa secara mendadak setelah makan.
Baca Juga: Mitos atau Fakta: Minum Air Dingin Bikin Perut Buncit? Simak Penjelasan Medisnya
Manfaat Ekstra bagi Tubuh
Selain membantu mengontrol gula darah, nasi kemarin juga menawarkan manfaat lain:
-
Kesehatan Pencernaan: Pati resisten berfungsi mirip serat yang menjadi "makanan" bagi bakteri baik di usus.
-
Efek Kenyang Lebih Lama: Karakteristiknya yang lambat dicerna membuat perut merasa kenyang dalam durasi yang lebih panjang, sehingga membantu manajemen berat badan.
Cara Penyimpanan yang Aman
Meskipun lebih sehat, Anda harus memperhatikan aspek keamanan pangan. Nasi yang dibiarkan di suhu ruang terlalu lama berisiko ditumbuhi bakteri Bacillus cereus.
-
Dinginkan Segera: Setelah uap panasnya hilang, segera masukkan nasi ke dalam wadah tertutup.
-
Simpan di Kulkas: Masukkan ke lemari pendingin dengan suhu di bawah 5°C.
-
Pemanasan Kembali: Anda tetap boleh memanaskan nasi tersebut sebelum dimakan tanpa menghilangkan kandungan pati resisten yang sudah terbentuk.
Nasi kemarin bisa menjadi strategi cerdas bagi penderita diabetes untuk tetap menikmati karbohidrat dengan risiko yang lebih rendah.
Namun, kunci utamanya tetap pada kontrol porsi serta keseimbangan asupan protein dan sayuran hijau agar nutrisi tubuh tetap terpenuhi secara optimal. (naz)
Editor : Mizan Ahsani