Jawa Pos Radar Madiun - Tren otomotif tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan pada kendaraan full hybrid (HEV). Namun, bagi pengguna yang mengutamakan ketangguhan operasional jarak jauh dan pengangkutan beban berat, mesin diesel modern seperti kode 2GD-FTV (2.4L common rail) terbukti masih memegang takhta efisiensi.
Baca Juga: Kupas Tuntas Perbedaan Sasis Ladder Frame vs Monokok, Mana yang Lebih Unggul?
Karakteristik mesin diesel yang optimal pada putaran rendah (cruising) menjadi alasan utama mengapa mesin ini sulit digeser oleh powertrain hybrid di lintasan antar kota. Berbeda dengan sistem hybrid yang sangat efisien di kondisi stop-and-go perkotaan berkat regenerative braking, mesin diesel justru mencapai efisiensi termal tertinggi saat bekerja secara konstan di RPM rendah hingga menengah, tipikal berkendara di jalan tol.
Mesin 2GD-FTV, yang tertanam pada model populer seperti Toyota Innova Reborn, Fortuner, dan Hilux, dikenal memiliki torsi melimpah sejak putaran bawah. Hal ini memberikan keunggulan mutlak saat kendaraan harus menanjak atau membawa muatan penuh tanpa harus menguras banyak bahan bakar. Efisiensi termal diesel modern yang kini rata-rata berada di atas 40 persen memastikan konversi energi dari bahan bakar menjadi tenaga jauh lebih optimal dibanding mesin bensin konvensional maupun hybrid saat dipacu di kecepatan tinggi secara stabil.
Dari sisi daya tahan, konstruksi mesin diesel yang kokoh memang dirancang untuk penggunaan intensif. Meskipun harga BBM diesel non-subsidi sempat mengalami fluktuasi di awal 2026, rasio konsumsi bahan bakar (km/liter) untuk perjalanan jarak jauh tetap memposisikan diesel sebagai pilihan yang lebih ekonomis secara operasional jangka panjang bagi pengusaha maupun keluarga yang hobi touring.
Baca Juga: Cocok untuk Innova Reborn dan Fortuner, Intip Aki Aspira Battery LN2 dan LN3 yang Baru Dirilis
Sebagai perbandingan di tahun 2026 ini, jika penggunaan didominasi di dalam kota, mesin hybrid memang lebih unggul. Namun, untuk rute lintas provinsi dan medan berat, diesel 2GD-FTV tetap menjadi jawara yang sulit ditandingi ketangguhannya. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani