Bos Geely Kritik Mobil Listrik: Baterai Lithium Terlalu Berat, Sebut Metanol Jauh Lebih Efisien

Satrio Jati • Dipublikasikan Senin, 27 April 2026 | 10:02 WIB
Mobil listrik sedan Geely A7 EV. (ANTARA)
Mobil listrik sedan Geely A7 EV. (ANTARA)

Jawa Pos Radar Madiun - Merek otomotif raksasa asal China, Geely, kini semakin serius menggarap jalur energi alternatif selain kendaraan listrik berbasis baterai (BEV).

Ketua Geely, Li Shufu, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap bobot baterai lithium yang dianggap terlalu berat untuk transportasi masa depan.

Menurut Li, kendaraan listrik berbasis baterai bisa memiliki berat hingga dua kali lipat dibandingkan kendaraan berbahan bakar metanol dengan ukuran yang setara.

Hal ini menjadi krusial karena bobot yang lebih berat berbanding lurus dengan konsumsi energi yang lebih tinggi, terutama pada sektor transportasi berat.

Baca Juga: Penjualan Mobil Hybrid Melonjak tapi Laba Hyundai Justru Anjlok Dua Digit, Apa Biang Keroknya?

"Metanol memiliki kepadatan energi yang jauh lebih tinggi dibandingkan baterai lithium-ion, bahkan lebih dari sepuluh kali lipat," ujar Li Shufu dikutip dari Carnewschina

Berdasarkan data tersebut, ia berpendapat bahwa kendaraan metanol mampu mencapai kapasitas angkut yang sama namun dengan bobot kendaraan hanya setengah dari mobil listrik baterai.

Meskipun mengakui bahwa kendaraan listrik sudah digunakan secara luas di China, Geely melihat faktor berat ini sebagai peluang besar bagi solusi metanol.

Terutama untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional dan pengurangan emisi karbon secara menyeluruh. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
baterai mobil listrik metanol mobil listrik Geely