Jawa Pos Radar Madiun - Menitipkan buah hati di tempat penitipan anak atau daycare sering kali menjadi pilihan sulit bagi orang tua yang bekerja.
Agar rasa waswas berkurang, orang tua perlu membangun komunikasi yang kuat agar anak mau menceritakan segala hal yang mereka alami selama tidak berada di rumah.
Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) memberikan beberapa kiat praktis bagi orang tua agar anak lebih ekspresif dan nyaman saat bercerita. Berikut adalah strategi yang bisa Anda terapkan:
Gunakan Pertanyaan Terbuka dan Spesifik
Psikolog Klinis Devi Yanti, M. Psi., menyarankan orang tua untuk menghindari pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak".
Alih-alih bertanya "Hari ini senang?", cobalah bertanya dengan lebih spesifik seperti "Tadi main apa?", "Main sama siapa saja?", atau "Ada kejadian lucu tidak hari ini?".
Metode ini memicu anak untuk mengingat detail kejadian dan merangkai kalimat lebih panjang. Dengan begitu, orang tua bisa mendapatkan gambaran nyata mengenai situasi dan interaksi sosial anak di daycare.
Manfaatkan "Momen Emas" dan Media Bermain
Pemilihan waktu bicara sangat menentukan kenyamanan anak untuk terbuka. Psikolog menyarankan untuk mencari celah di sela-sela rutinitas yang santai, seperti saat makan malam, waktu mandi, atau menjelang tidur.
Momen-momen ini dianggap sebagai waktu paling rileks bagi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Jika anak masih kesulitan bercerita langsung, orang tua bisa menggunakan media bermain.
Melalui permainan peran menggunakan boneka atau menggambar bersama, anak sering kali secara tidak sadar mengungkapkan hal-hal yang sulit mereka sampaikan lewat kata-kata.
Baca Juga: KPAI: Kasus Daycare Maut Little Aresha Terburuk di Indonesia dalam 3 Tahun Terakhir
Kendalikan Ekspresi dan Hindari Reaksi Berlebihan
Satu poin krusial bagi orang tua adalah tetap tenang saat mendengarkan cerita anak, termasuk cerita yang buruk sekalipun.
Jika anak menceritakan sesuatu yang mengkhawatirkan, usahakan jangan langsung menunjukkan reaksi panik, marah, atau menangis di depan mereka.
Reaksi yang terlalu berlebihan bisa membuat anak merasa bersalah atau takut karena telah bercerita. Hal ini berisiko membuat mereka memilih untuk diam di kemudian hari.
Tetaplah menjadi pendengar yang tenang agar anak selalu merasa aman untuk mengadu kapan pun.
Menepis Stigma Negatif Tentang Daycare
HIMPSI menegaskan bahwa menitipkan anak ke daycare berkualitas bukanlah hal yang tabu atau tanda orang tua yang kurang perhatian.
Secara psikologis, anak justru bisa mendapatkan manfaat stimulasi sosial dan interaksi teman sebaya yang mendukung tumbuh kembangnya jika diasuh di lembaga yang tepat.
Yang terpenting bukanlah di mana anak diasuh, melainkan kualitas pengasuhan yang diterima.
Meski begitu, adanya kasus kekerasan di lembaga pengasuhan belakangan ini harus menjadi pengingat bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan izin operasional di seluruh Indonesia. (naz)
Editor : Mizan Ahsani