Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah suhu panas ekstrem yang terjadi di Indonesia, pengguna kendaraan listrik diimbau untuk lebih memperhatikan cara penggunaan dan perawatan baterai.
Hal ini penting untuk menjaga performa kendaraan tetap optimal dan memperpanjang usia pakai baterai.
Pakar otomotif ITB, Yannes Martinus Pasaribu, menjelaskan bahwa ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan pengguna EV untuk mengurangi dampak panas terhadap baterai.
Gunakan Fitur dan Atur Kebiasaan Pengisian Daya
Salah satu langkah yang disarankan adalah mengaktifkan fitur preconditioning sebelum berkendara. Fitur ini membantu menyesuaikan suhu baterai agar lebih stabil sebelum digunakan.
Pengguna juga disarankan menjaga tingkat daya baterai di kisaran 20 hingga 80 persen serta menghindari pengisian hingga penuh setiap hari, terutama saat cuaca panas.
Selain itu, penggunaan fast charging sebaiknya dibatasi, terutama ketika suhu lingkungan sedang tinggi atau baterai masih dalam kondisi panas setelah digunakan.
Perhatikan Waktu dan Cara Charging
Yannes menekankan bahwa pengisian daya sebaiknya dilakukan pada malam hari saat suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, gunakan pengisian Level 2 dan hindari fast charging berlebihan.
“Pengisian daya sebaiknya dilakukan pada malam hari ketika suhu lebih rendah. Jika memungkinkan, gunakan pengisian Level 2 dan batasi fast charging hingga 80 persen saja,” ujarnya.
Parkir dan Perawatan Sistem Pendingin
Selain pengisian daya, cara parkir juga berpengaruh. Kendaraan listrik sebaiknya diparkir di tempat teduh, sejuk, dan kering untuk menghindari paparan sinar matahari langsung.
Penggunaan pelindung kaca atau sunshade juga disarankan untuk mengurangi panas di dalam kabin.
Pemeriksaan sistem pendingin baterai, termasuk cairan pendingin dan sensor suhu, juga penting dilakukan secara berkala agar performa tetap optimal.
Sistem Pendingin Tidak Sepenuhnya Sempurna
Meski kendaraan listrik modern sudah dilengkapi sistem manajemen termal atau thermal management system (TMS), sistem ini tetap memiliki batasan.
Pada kondisi ekstrem, TMS dapat mengonsumsi energi tambahan yang berdampak pada penurunan jarak tempuh sekitar 5 hingga 10 persen. (naz)
Editor : Mizan Ahsani