Jawa Pos Radar Madiun – Pernahkah Anda terbangun dengan tangan terasa mati rasa atau kesemutan yang hebat? Bisa jadi, itu karena Anda terbiasa tidur dengan posisi tangan di atas kepala atau yang sering disebut sebagai posisi "Bintang Laut" (Starfish Pose).
Meskipun bagi sebagian orang posisi ini terasa sangat santai dan membebaskan, ternyata ada penjelasan medis di balik dampak fisik yang ditimbulkannya. Bukan karena mitos atau hal mistis, melainkan murni faktor ergonomi tubuh. Mari kita bedah risiko serta posisi alternatif yang lebih sehat untuk Anda.
Dampak Tidur dengan Tangan di Atas Kepala
Menahan lengan di atas level jantung atau kepala dalam durasi yang lama dapat memengaruhi sistem saraf dan otot Anda. Berikut adalah beberapa risikonya:
Baca Juga: Tidur Tengkurap: Nyaman atau Justru Berisiko bagi Kesehatan? Simak Faktanya!
1. Menyebabkan Kesemutan dan Mati Rasa (Parestesia)
Ini adalah keluhan yang paling umum. Saat tangan terangkat dalam waktu lama, aliran darah ke arah lengan dapat terhambat. Selain itu, posisi ini bisa menekan saraf di bahu (pleksus brakialis).
Dampaknya: Anda akan terbangun dengan sensasi "tangan hilang" atau kesemutan yang tidak nyaman saat aliran darah mulai kembali normal.
2. Memicu Nyeri Bahu dan Kaku Leher
Posisi tangan di atas kepala memaksa otot-otot bahu untuk terus meregang (stretching) dan menahan beban lengan selama berjam-jam.
Akibatnya: Tekanan pada sendi bahu meningkat, yang berisiko menyebabkan otot menjadi kaku, pegal, hingga memicu nyeri leher saat bangun tidur.
3. Terkait dengan Pola Pernapasan
Menariknya, posisi ini sering kali dilakukan secara tidak sadar. Beberapa ahli berpendapat bahwa mengangkat tangan ke atas kepala membantu membuka rongga dada dan saluran napas lebih lebar.
Catatan: Jika Anda sering melakukan posisi ini tanpa sadar, bisa jadi tubuh Anda sedang berupaya mencari posisi paling nyaman untuk bernapas karena adanya sumbatan ringan (seperti mendengkur atau gejala apnea tidur).
4. Mengganggu Kualitas Istirahat
Meski awalnya terasa nyaman, rasa pegal dan kesemutan sering kali memicu gangguan kecil (micro-arousals) saat tidur. Anda mungkin sering berpindah posisi atau terbangun di tengah malam tanpa menyadari penyebabnya, yang pada akhirnya menurunkan kualitas tidur secara keseluruhan.
Posisi Tidur yang Lebih Sehat dan Dianjurkan
Untuk memastikan sirkulasi darah tetap lancar dan tulang belakang tetap terjaga, para ahli lebih menyarankan posisi berikut:
Telentang dengan Tangan di Samping: Posisi ini menjaga berat badan terdistribusi merata dan mengurangi tekanan pada bahu.
Miring (Kanan atau Kiri): Tidur miring dengan bantal di antara lutut dapat menjaga tulang belakang tetap netral dan sangat baik untuk mencegah dengkur serta menjaga kelancaran pernapasan.
Tips: Jika Anda sulit mengubah kebiasaan posisi "bintang laut", cobalah meletakkan bantal kecil di bawah lengan untuk menyangga tangan agar tidak terlalu tinggi melampaui kepala.
Tidur dengan tangan di atas kepala memang memberikan kesan santai, namun bukan tanpa konsekuensi fisik. Jika Anda mulai sering merasakan nyeri bahu atau tangan yang sering "mati rasa", mulailah beradaptasi dengan posisi tidur yang lebih ergonomis.
Menyesuaikan posisi tidur adalah investasi kecil untuk kualitas hidup yang lebih besar. Dengan sirkulasi yang lancar, tubuh pun bisa pulih (recovery) dengan jauh lebih maksimal saat beristirahat.
Editor : Nur Wachid