Jawa Pos Radar Madiun - Larangan keramas saat menstruasi masih sering terdengar di tengah masyarakat. Bahkan, ada anggapan bahwa kebiasaan tersebut bisa memicu munculnya miom pada rahim.
Namun, dalam dunia medis, klaim tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan tergolong mitos yang tidak terbukti.
Miom Bukan Disebabkan Keramas
Miom merupakan pertumbuhan jaringan otot rahim yang bersifat jinak, bukan kanker. Kondisi ini umumnya dipengaruhi oleh faktor hormonal, terutama estrogen, serta faktor genetik.
Hingga saat ini, tidak ada penelitian medis yang menunjukkan hubungan antara aktivitas keramas saat haid dengan munculnya miom.
Menjaga Kebersihan Justru Dianjurkan
Sebaliknya, menjaga kebersihan tubuh saat menstruasi justru sangat penting. Aktivitas seperti keramas, mandi, dan mengganti pembalut secara rutin membantu mencegah infeksi serta menjaga kenyamanan tubuh.
Dengan kata lain, kebersihan diri tetap harus dijaga tanpa perlu takut terhadap mitos yang tidak berdasar.
Baca Juga: PKL Nakal Ditertibkan, Belasan Lapak Diangkut Satpol PP Ponorogo
Asal Usul Mitos yang Beredar
Mitos ini diduga muncul dari anggapan lama bahwa tubuh lebih sensitif terhadap suhu dingin saat haid. Padahal, secara medis, hal tersebut tidak terbukti memengaruhi kondisi rahim maupun kesehatan reproduksi.
Selama dilakukan dengan benar, misalnya menggunakan air hangat dan segera mengeringkan rambut, keramas tetap aman dilakukan saat menstruasi.
Pandangan Medis yang Jelas
Para ahli kesehatan menegaskan bahwa menstruasi adalah proses alami tubuh yang tidak membatasi aktivitas kebersihan diri. Tidak ada larangan medis untuk keramas selama haid.
Yang justru dianjurkan adalah menjaga higienitas agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari infeksi.
Anggapan bahwa keramas saat menstruasi dapat menyebabkan miom hanyalah mitos yang tidak didukung bukti ilmiah.
Justru, menjaga kebersihan tubuh selama haid merupakan hal yang penting untuk kesehatan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani