Jawa Pos Radar Madiun - Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini menjadi pedang bermata dua di jagat digital. Di satu sisi memudahkan pekerjaan, namun di sisi lain, teknologi ini kerap disalahgunakan untuk menciptakan identitas palsu di aplikasi kencan melalui teknik deepfake. Para pelaku kriminal kini tidak lagi mencuri foto orang lain, melainkan memproduksi wajah "sempurna" yang sepenuhnya dihasilkan oleh mesin untuk mengelabui korban.
Baca Juga: Taylor Swift Daftarkan Suara dan Wajahnya sebagai Merek Dagang, Ogah Disalahgunakan AI
Secara teknis, membedakan foto asli dengan hasil generator AI seperti Midjourney atau Stable Diffusion memang semakin menantang. Namun, AI tetap memiliki kelemahan dalam merender detail-detail organik yang kompleks. Salah satu cara paling efektif adalah dengan memperhatikan area mata dan pantulan cahaya. Foto asli biasanya memiliki pantulan cahaya (catchlight) yang konsisten di kedua bola mata, sementara foto hasil AI sering kali menampilkan pola pantulan yang asimetris atau bentuk pupil yang tidak bulat sempurna.
Detail pada area pinggiran wajah juga sering menjadi titik lemah teknologi deepfake. Perhatikan transisi antara rambut dan latar belakang. AI sering kali kesulitan memproses helai rambut yang halus, sehingga area tersebut akan terlihat sedikit kabur (blurry) atau justru terlalu tajam secara tidak alami. Selain itu, tekstur kulit yang terlalu mulus seperti porselen tanpa adanya pori-pori, tahi lalat, atau garis halus yang wajar patut dicurigai sebagai hasil olahan algoritma.
Kejanggalan lain yang sering muncul dalam sekali lihat adalah pada aksesori dan latar belakang. AI kerap gagal merender bentuk anting yang simetris antara telinga kanan dan kiri. Begitu juga dengan latar belakang foto; jika Anda melihat pola arsitektur yang melengkung tidak wajar atau objek di belakang subjek yang tampak "meleleh", hampir dipastikan itu adalah foto hasil manipulasi AI.
Untuk pencegahan yang lebih efektif, pengguna aplikasi kencan disarankan untuk meminta verifikasi melalui panggilan video. Meskipun deepfake video mulai berkembang, teknologi ini biasanya masih menunjukkan keterlambatan (lag) pada gerakan mulut atau kedipan mata yang tidak sinkron saat dilakukan secara real-time. Selalu lakukan pencarian gambar terbalik (reverse image search) untuk memastikan foto tersebut tidak tersebar di banyak situs dengan identitas yang berbeda.
Baca Juga: Potret Wajah Diubah Jadi Ukiran Daun Kering dengan Gemini AI, Mirip Karya Seni Nyata
Dalam dunia kencan digital yang semakin canggih, kewaspadaan adalah pertahanan utama. Jangan mudah tergiur dengan profil yang tampak terlalu sempurna tanpa cacat, karena di balik kecantikan atau ketampanan algoritmik tersebut, bisa jadi terdapat ancaman keamanan data dan finansial yang serius. (*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani