Jawa Pos Radar Madiun - Kebijakan penggunaan Bio-Solar dengan kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang terus meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi pemilik mobil diesel modern. Mesin diesel masa kini, terutama yang mengadopsi sistem Common Rail, menuntut kualitas bahan bakar yang sangat tinggi karena lubang injektornya yang jauh lebih kecil dibandingkan mesin diesel konvensional.
Secara teknis, penggunaan Bio-Solar dalam jangka panjang memiliki dua risiko utama: kandungan air yang tinggi dan sifat detergen alami dari unsur nabati. Sifat detergen ini mampu mengikis endapan di tangki bahan bakar yang kemudian terbawa ke aliran filtrasi. Jika filter solar tidak mampu menangkap kotoran mikroskopis ini, maka sisa partikel dan residu karbon akan menumpuk pada nozzle injektor.
Baca Juga: Bukan Mobil, Ini Alasan Motor Listrik Harus Dapat Insentif Lebih Banyak dari Pemerintah
Penumpukan deposit karbon ini mengakibatkan pengabutan bahan bakar menjadi tidak sempurna. Bukannya berbentuk kabut (mist), solar justru keluar dalam bentuk tetesan (dripping). Dampaknya fatal; mulai dari suara mesin yang kasar (ngelitik), asap hitam pekat, hingga risiko paling ekstrem yakni piston bolong akibat suhu pembakaran yang tidak merata.
Banyak pemilik kendaraan mengandalkan metode purging sebagai solusi instan. Purging memang efektif untuk membersihkan deposit karbon pada saluran bahan bakar dan injektor dengan menggunakan cairan pembersih terkonsentrasi yang dialirkan langsung ke mesin. Namun, apakah purging saja cukup?
Jawabannya adalah tidak cukup jika tidak disertai dengan manajemen perawatan yang komprehensif. Purging hanyalah langkah kuratif atau pembersihan setelah kotoran menumpuk. Untuk perlindungan jangka panjang, pemilik mesin diesel modern wajib melakukan penggantian filter solar lebih awal dari jadwal resmi pabrikan, misalnya setiap 5.000 hingga 7.000 kilometer, untuk meminimalisir risiko air dan kotoran masuk ke sistem common rail.
Baca Juga: Nasib Innova Diesel Bekas saat Harga Dexlite Meroket, Simak Hitungan Untung dan Ruginya
Selain itu, penggunaan fuel additive secara rutin sangat disarankan untuk membantu meningkatkan angka cetane dan memisahkan kandungan air dalam Bio-Solar. Kesimpulannya, meskipun purging rutin sangat membantu menjaga performa injektor tetap optimal, ia harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem perawatan, bukan satu-satunya "obat ajaib" untuk melawan efek samping bahan bakar berkualitas rendah pada mesin diesel presisi tinggi. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani