Jawa Pos Radar Madiun - Pasar mobil bekas di 2026 semakin ramai dengan hadirnya kendaraan listrik second yang mulai dijual dengan harga menarik.
Di sisi lain, mobil berbahan bakar minyak atau BBM masih menjadi pilihan mayoritas masyarakat karena dianggap lebih aman dan praktis.
Namun, memilih mobil bekas saat ini tidak lagi sesederhana melihat tampilan dan harga murah. Ada banyak faktor baru yang wajib dipertimbangkan, terutama ketika calon pembeli mulai dihadapkan pada pilihan antara mobil listrik bekas dan mobil BBM bekas.
Jika salah hitung, biaya perbaikan dan perawatan di masa depan bisa membuat pengeluaran membengkak.
Kesehatan Baterai Jadi Kunci Mobil Listrik
Perbedaan terbesar antara mobil listrik dan mobil BBM terletak pada komponen utamanya.
Pada mobil listrik, kondisi baterai menjadi faktor paling penting. Pembeli wajib memeriksa State of Health atau SOH baterai sebelum memutuskan membeli unit bekas.
Jika kesehatan baterai sudah turun di bawah 80 persen, jarak tempuh kendaraan biasanya ikut menurun drastis. Risiko terbesarnya adalah biaya penggantian baterai yang sangat mahal.
Bahkan, harga baterai baru bisa mencapai 40 sampai 50 persen dari harga mobil dalam kondisi baru.
Karena itu, calon pembeli disarankan memilih unit dengan riwayat servis resmi agar kondisi baterai bisa dicek melalui alat diagnostik.
Sementara pada mobil BBM, perhatian utama biasanya terletak pada kondisi mesin, transmisi, dan catatan penggantian oli rutin.
Harga Jual Kembali Punya Karakter Berbeda
Mobil listrik bekas saat ini memang mengalami depresiasi cukup tajam dibandingkan mobil BBM. Banyak konsumen masih khawatir terhadap umur baterai dan perkembangan teknologi yang cepat berubah.
Namun kondisi ini justru bisa menguntungkan pembeli karena harga mobil listrik second menjadi jauh lebih murah dibanding harga barunya.
Di sisi lain, mobil BBM cenderung memiliki nilai jual kembali lebih stabil. Faktor jaringan bengkel yang luas dan ketersediaan suku cadang membuat mobil konvensional masih dipercaya pasar Indonesia.
Baca Juga: Tim Uber Indonesia Raih Perunggu di Denmark, PBSI Langsung Siapkan Evaluasi Besar
Infrastruktur Jadi Penentu Kenyamanan
Mobil listrik sangat cocok digunakan di kota besar, terutama bagi pengguna yang bisa memasang home charging di rumah.
Saat ini, keberadaan SPKLU memang mulai bertambah, tetapi perjalanan jarak jauh ke daerah terpencil masih menjadi tantangan tersendiri.
Sebaliknya, mobil BBM menawarkan fleksibilitas lebih tinggi karena SPBU tersedia hampir di seluruh wilayah Indonesia.
Pengguna tidak perlu repot memikirkan lokasi pengisian daya atau mengatur rute perjalanan secara khusus.
Mobil Listrik Punya Keuntungan Bebas Ganjil Genap
Bagi masyarakat yang rutin beraktivitas di Jakarta, mobil listrik memiliki nilai tambah cukup besar.
Kendaraan listrik masih mendapatkan fasilitas bebas aturan ganjil genap. Keuntungan ini membuat mobil listrik semakin menarik bagi pengguna harian di wilayah perkotaan padat.
Sementara mobil BBM tetap harus mengikuti pembatasan lalu lintas sesuai aturan yang berlaku.
Baca Juga: Perusahaan Ramai-Ramai Pecat Karyawan Gen Z, Ternyata Ini Alasannya
Risiko Biaya Besar Tetap Mengintai
Meski biaya servis rutin mobil listrik relatif lebih murah karena komponen bergeraknya sedikit, ada satu risiko besar yang harus dipahami pembeli, yaitu baterai.
Jika masa garansi baterai habis dan terjadi kerusakan, biaya penggantiannya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Karena itu, pembeli disarankan memilih mobil listrik bekas yang masih memiliki garansi baterai panjang, biasanya hingga delapan tahun atau 160 ribu kilometer.
Pada mobil BBM, risiko terbesar biasanya muncul ketika usia kendaraan sudah di atas 10 tahun. Kerusakan mesin atau transmisi bisa membutuhkan biaya besar, meski umumnya masih lebih murah dibanding penggantian baterai EV.
Ban dan Rem Punya Karakter Berbeda
Mobil listrik memiliki sistem regenerative braking yang membuat kampas rem lebih awet dibanding mobil BBM.
Namun di sisi lain, bobot kendaraan listrik yang lebih berat membuat ban cenderung lebih cepat aus. Harga ban khusus EV juga biasanya sedikit lebih mahal dibanding ban mobil biasa.
Karena itu, calon pembeli perlu menghitung biaya operasional secara menyeluruh sebelum menentukan pilihan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani