Jawa Pos Radar Madiun - Menjadi mahasiswa tingkat akhir di tahun 2026 membawa tantangan ganda. Tak hanya berkutat dengan tumpukan revisi skripsi, banyak mahasiswa kini dituntut menyelesaikan program magang sebagai syarat kelulusan maupun persiapan karier. Kondisi ini sering kali memicu burnout jika tidak dikelola dengan manajemen waktu yang presisi.
Baca Juga: Hantavirus Renggut Korban Jiwa di Kapal Pesiar, Kenali Gejala dan Penularannya
Kunci utama menghadapi beban ganda ini adalah disiplin dalam pembagian skala prioritas. Salah satu metode yang efektif adalah teknik Pomodoro. Caranya, mahasiswa fokus bekerja selama 25 menit, diikuti istirahat singkat 5 menit. Pola ini menjaga otak tetap segar dan mencegah kelelahan mental akibat menatap layar laptop terlalu lama saat menyusun bab pembahasan atau laporan kerja.
Selain teknik manajemen waktu, pemanfaatan teknologi menjadi keharusan. Aplikasi manajemen tugas seperti Notion atau Trello sangat membantu untuk memetakan deadline. Dengan fitur checklist dan kalender digital, mahasiswa bisa memantau progres skripsi sekaligus tugas kantor dalam satu dasbor terintegrasi, sehingga tidak ada jadwal yang bentrok.
Aspek yang sering terlupakan adalah menetapkan batas tegas antara waktu produktif dan waktu istirahat. Hindari mengerjakan skripsi di jam kantor, dan sebaliknya, jangan membawa beban pekerjaan magang ke meja belajar saat malam hari. Tidur yang cukup dan jeda sosial tetap diperlukan agar kreativitas dalam menulis tugas akhir tetap mengalir.
Baca Juga: Penyebab Jumlah Pengikut Instagram Turun Drastis, Raffi Ahmad hingga Luna Maya Kehilangan Jutaan Akun
Mengatur waktu memang bukan perkara mudah, namun dengan bantuan alat yang tepat dan ritme kerja yang konsisten, gelar sarjana dan pengalaman kerja profesional bisa diraih tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani