Jawa Pos Radar Madiun - Dunia otomotif China tengah diguncang perdebatan sengit terkait keamanan teknologi flash charging.
Hal ini bermula dari sesi siaran langsung pengujian independen yang dilakukan oleh blogger otomotif ternama, James Yu atau yang dikenal sebagai “Caishendao”, pada SUV listrik Fang Cheng Bao Tai 3 BYD.
Dalam pengujian tersebut, suhu permukaan battery pack tercatat menembus angka 76,42 derajat Celsius saat proses pengisian daya ultra-cepat berlangsung.
Tentu saja hal itu memicu kekhawatiran publik terkait risiko keselamatan dan degradasi baterai jangka panjang.
Fakta Teknis Pengujian
Pengujian dilakukan dengan mengisi daya kendaraan dari kondisi baterai 8 persen hingga mencapai 97 persen State of Charge (SOC). Berikut adalah rincian data suhu yang terekam:
-
Sensor Eksternal: Mencatat suhu puncak sebesar 76,42°C di bagian bawah tengah paket baterai.
-
Data Diagnostik Kendaraan: Menunjukkan suhu terminal baterai berada di kisaran 71°C.
-
Deviasi Suhu: Perbedaan antara titik terpanas dan terdingin mencapai 6,5°C selama proses berlangsung.
Baca Juga: Rolling Thunder Mods May Day Madiun Pecah! Ratusan Vespa dan Skuter Kuasai Jalanan Kota
Klarifikasi dan Bantahan Modifikasi
Menanggapi keraguan netizen, Caishendao menegaskan bahwa kendaraan yang diuji dibeli secara legal dari diler resmi BYD dan dalam kondisi standar pabrikan.
Ia membantah keras tudingan bahwa paket baterai telah dimodifikasi atau dibor untuk menempatkan sensor.
"Lima sensor suhu hanya ditempelkan pada permukaan sel tanpa mengubah struktur. Sistem pendingin cair tetap bekerja selama pengujian. Jika sistem pendingin gagal, proses pengisian otomatis akan berhenti," jelas Caishendao melalui media sosialnya.
Risiko Degradasi dan Standar Keamanan
Perdebatan ini meluas hingga ke aspek regulasi.
Standar China GB/T 44500-2024 sebenarnya mencantumkan ambang rekomendasi suhu untuk baterai lithium iron phosphate (LFP) sebesar 65 derajat Celsius.
Meski standar ini belum diwajibkan secara resmi, suhu 76°C yang terekam dalam pengujian dianggap sudah melampaui batas kenyamanan operasional baterai.
Secara akademis, rentang suhu 80–120 derajat Celsius merupakan titik kritis di mana dekomposisi dan rekonstruksi lapisan Solid Electrolyte Interphase (SEI) pada baterai mulai dibahas.
Kerusakan pada lapisan SEI dapat mempercepat degradasi kapasitas baterai dan, dalam skenario terburuk, meningkatkan risiko kegagalan termal.
Laporan tersebut menekankan bahwa angka yang terukur adalah suhu permukaan, bukan temperatur inti internal sel baterai yang biasanya lebih tinggi. Hingga saat ini, belum ada data terverifikasi mengenai temperatur internal dari unit uji tersebut.
Pihak BYD sendiri belum memberikan pernyataan resmi atau pengumuman perubahan spesifikasi charging terkait hasil pengujian independen ini. Namun
, insiden ini menjadi pengingat penting bagi industri mengenai tantangan besar dalam menyeimbangkan kecepatan pengisian daya ekstrem dengan manajemen suhu yang aman bagi konsumen. (naz)
Editor : Mizan Ahsani