Jawa Pos Radar Madiun - Berkendara di bawah guyuran hujan deras, terutama saat melintasi jalan tol, menuntut kewaspadaan tinggi terhadap fenomena aquaplaning. Kondisi ini terjadi ketika ban kehilangan kontak langsung dengan aspal karena terhalang oleh lapisan air, yang menyebabkan kendaraan kehilangan kendali seketika.
Banyak pemilik kendaraan beranggapan bahwa ban dengan pola tapak atau alur berbentuk "V" (direksional) adalah yang terbaik untuk membelah air. Namun, secara teknis, anggapan tersebut tidak selalu tepat dalam segala kondisi jalanan tergenang.
Baca Juga: 10 Mobil Bekas 60 Jutaan Paling Dicari 2026, Irit, Bandel, dan Layak Dibeli untuk Harian
Paradoks Ban Alur "V" di Jalan Basah
Ban dengan motif alur V memang dirancang untuk mengekskusi air ke arah samping dengan cepat. Namun, ban jenis ini memiliki kelemahan pada tingkat kebisingan dan kecenderungan keausan yang tidak merata jika tidak dirawat dengan baik.
Di jalanan yang sangat tergenang (deep standing water), efisiensi pembuangan air sangat bergantung pada kedalaman alur, bukan hanya bentuk motifnya. Ban dengan pola asimetris modern seringkali justru lebih unggul karena memiliki blok yang lebih kaku dan drainase yang lebih stabil untuk meminimalisir risiko ban "mengapung".
Kapan Waktu yang Tepat Mengganti Ban?
Bagi pengguna kendaraan harian yang sering memacu mobil di jalan tol, memastikan kondisi "kaki-kaki" adalah harga mati. Berikut adalah panduan teknis sederhana untuk mengecek kelayakan ban Anda:
1. Cek TWI (Tread Wear Indicator)
Lihatlah simbol segitiga kecil di dinding ban, lalu tarik garis ke tengah alur ban. Jika permukaan tapak sudah sejajar dengan gundukan kecil (indikator) di dalam parit ban tersebut, itu tandanya kedalaman alur sudah di bawah 1,6 mm. Segera ganti ban Anda sebelum musim hujan mencapai puncaknya.
2. Perhatikan Kode Produksi
Ban memiliki masa pakai optimal meski alurnya masih tebal. Periksa empat digit angka di dinding ban, misalnya "1224", yang berarti ban diproduksi pada minggu ke-12 tahun 2024. Idealnya, ban diganti setiap 3 hingga 5 tahun karena kompon karet akan mengeras (getas), yang mengurangi daya cengkeram (grip) secara signifikan di jalan basah.
3. Tekanan Angin yang Tepat
Ban yang kekurangan angin justru lebih rentan terkena aquaplaning karena area kontak ban dengan jalan menjadi tidak stabil, sehingga air lebih mudah terjebak di tengah tapak.
Baca Juga: Pengemudi Diimbau Kurangi Kecepatan Saat Hujan Deras, Waspadai Aquaplaning di Tol Ngawi–Kertosono
Mengemudi di jalan tol saat hujan membutuhkan ban yang mampu "mencengkeram" aspal dengan sempurna. Jangan hanya terpaku pada tampilan motif yang keren, namun pastikan integritas karet dan kedalaman alur tetap terjaga demi keselamatan di jalan raya. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani