Jawa Pos Radar Madiun - Ketergantungan pada energi fosil yang kian tak menentu akibat gejolak geopolitik global memaksa banyak negara untuk segera berbenah.
Di Indonesia, langkah berani diambil pemerintah dengan mempercepat transisi menuju mobilitas tanpa emisi yang lebih ramah lingkungan.
Saat ini, sebuah regulasi baru tengah digodok hangat di meja perumusan kebijakan, yakni pemberian insentif khusus bagi kendaraan listrik yang menggunakan bahan baku baterai nikel. Langkah strategis ini rupanya langsung disambut positif oleh raksasa otomotif asal Tiongkok, BYD.
Pabrikan yang tengah gencar melakukan ekspansi pasar elektrifikasi di Tanah Air ini menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh arah kebijakan pemerintah.
Dukungan Penuh untuk Transisi Energi Nasional
Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menilai bahwa aturan yang sedang dirancang oleh pemerintah memiliki tujuan akhir yang sangat krusial.
Regulasi tersebut diyakini akan menjadi katalisator atau booster yang ampuh untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik murni (EV) di kalangan masyarakat luas.
“Tapi saya percaya insentif dari pemerintah, bisa sesegera mungkin mendukung transisi energi dan mengurangi subsidi bahan bakar, apalagi dengan uncertainty dan situasi geopolitik sekarang menjadi semakin kompleks ya untuk tetap bergantung pada energi fosil,” kata Luther Panjaitan di Jakarta, Selasa.
Bagi BYD, setiap kebijakan yang memprioritaskan energi bersih patut diapresiasi. Pabrikan ini menegaskan bahwa mereka akan selalu berkomitmen mengikuti regulasi lokal, terlepas dari apa pun jenis material utama penyimpanan daya yang nantinya akan didorong oleh pemerintah Indonesia.
“Apapun dari teknologi baterainya, walaupun nikel, walaupun Lithium itu dua-duanya sama-sama mendukung niat baik pemerintah tersebut. Dan selebihnya kami serahkan kepada pemerintah untuk menentukan,” kata dia.
Baca Juga: Bocoran Spesifikasi Baru BYD Atto 1 2026: Bukan Sekadar Naik Harga, tapi Upgrade Fitur Mewah
Strategi Jangka Panjang dan Ekosistem Kendaraan Listrik
Guna menyelaraskan visi dengan kebijakan pemerintah, BYD telah menyiapkan peta jalan atau strategi jangka panjang yang komprehensif. Strategi ini dirancang dengan sangat detail agar pabrikan dapat melangkah beriringan dengan misi penumbuhan ekosistem kendaraan listrik di Nusantara.
Luther membeberkan bahwa persiapan BYD tidak hanya sebatas mendatangkan unit kendaraan, melainkan mencakup ekosistem bisnis hulu hingga ke hilir yang matang.
“Kami telah menetapkan seluruhnya, mempertimbangkan berbagai macam aspek termasuk dari sisi produksi, ekosistem yang akan dibangun, gaya dalam menentukan jaringan penjualan, kemudian pertimbangan terhadap package terhadap pengendaraannya, yaitu seperti after sales, commitment dari warranty, lalu baterai,” jelas Luther.
Berkaca pada kesuksesan BYD menguasai pasar global dalam kampanye elektrifikasi penuh, pihak manajemen secara aktif mempelajari efektivitas setiap kebijakan negara yang menjadi target pasar mereka.
Pengalaman di negara lain ini menjadi landasan kuat bagi perusahaan dalam memandang kebijakan insentif di Indonesia.
“Rencana itu mungkin juga adalah refleksi bahwa ternyata efektifnya aturan fiskal bahkan non-fiskal yang ada saat ini dalam mendukung transisi,” ujar dia.
Sebagai informasi, wacana pemberian insentif khusus ini sebelumnya telah digaungkan oleh Kementerian Keuangan.
Pemerintah berencana menggelontorkan insentif yang jauh lebih besar bagi kendaraan listrik yang memanfaatkan baterai dengan kandungan nikel lokal.
Kebijakan ini merupakan bagian dari agenda besar negara untuk memperkuat program hilirisasi domestik.
Pemerintah ingin memastikan bahwa kekayaan alam berupa nikel, khususnya jenis third generation atau nikel kualitas tinggi, dapat terserap maksimal di dalam negeri sebagai bahan baku utama pembuatan baterai kendaraan listrik global. (naz)
Editor : Mizan Ahsani