Jawa Pos Radar Madiun - Ada pemandangan menarik di jalanan perkotaan belakangan ini. Deretan mobil era tahun 2000-an awal kini semakin sering berseliweran dengan anak-anak muda di balik kemudinya. Fenomena beralihnya ketertarikan generasi Z (Gen Z) ke mobil-mobil berumur dua dekade ini bukan sekadar urusan keterbatasan anggaran, melainkan sebuah tren gaya hidup baru yang kian mapan.
Kendaraan roda empat lansiran era milenium, baik di segmen Sport Utility Vehicle (SUV) tangguh maupun sedan yang elegan, mendadak jadi primadona baru. Mobil-mobil ini dinilai memiliki karakter kuat yang tidak ditemukan pada lini mobil modern yang serba seragam.
Baca Juga: Arla Ailani Rela Panjangkan Bulu Ketiak demi Film Gudang Merica, Sampai Harus Perming Rambut!
Efek Nostalgia dan Identitas Estetika yang Unik
Bagi Gen Z, era 2000-an adalah masa kecil yang penuh kenangan. Memiliki mobil yang sempat mereka lihat di brosur, majalah, atau film masa kecil mendatangkan kepuasan emosional tersendiri. Sisi nostalgia inilah yang menjadi motor penggerak utama.
Selain itu, desain mobil era 2000-an dinilai memiliki estetika yang khas—menjembatani transisi antara desain kotak klasik 90-an dengan lekukan modern. Di segmen sedan, nama-nama seperti Honda Civic Century atau Toyota Corolla Altis generasi awal kembali diburu karena tongkrongannya yang dinilai timeless. Sementara di segmen SUV, ketangguhan berbalut kenyamanan khas sasis monocoque seperti Chevrolet Captiva bensin generasi awal, maupun ketangguhan sasis ladder frame dari SUV Jepang, menjadi daya tarik bagi mereka yang gemar bertualang namun tetap ingin tampil beda.
Kemudahan Perawatan dan Sistem Mekanikal yang "Jujur"
Berbeda dengan mobil keluaran terbaru yang sarat akan sensor elektronik rumit dan sistem komputerisasi (Electronic Control Unit/ECU) yang kompleks, mobil era 2000-an dinilai lebih ramah bagi pemula yang ingin belajar mekanikal.
Sistem kelistrikan dan mesin pada era tersebut tergolong "jujur" dan tidak terlalu intimidatif. Banyak modifikasi ringan atau perawatan berkala yang bisa dilakukan sendiri di garasi rumah (Do It Yourself). Hal ini memberikan ruang bagi Gen Z untuk membangun ikatan lebih dalam dengan kendaraan mereka, sekaligus menekan biaya jasa montir di bengkel.
Ketersediaan Suku Cadang Melimpah dan Nilai Investasi Stabil
Salah satu ketakutan terbesar dalam memelihara mobil lawas adalah perkara suku cadang. Beruntung, untuk mobil-mobil populer era 2000-an yang dipasarkan di Indonesia, ketersediaan komponennya masih sangat melimpah. Didukung oleh ekosistem belanja online dan komunitas pencinta hobi yang solid, berburu sparepart—baik orisinal, OEM, hingga komponen copotan—kini hanya seujung jari.
Baca Juga: Tak Hanya Harum dan Cantik, Ini 7 Manfaat Bunga Melati untuk Tubuh dan Pikiran
Menariknya lagi, tren ini turut mendongkrak aspek finansial dari mobil-mobil tersebut. Berbeda dengan mobil baru yang depresiasi harganya terjun bebas begitu keluar dari dealer, harga pasaran SUV dan sedan era 2000-an yang kondisinya terawat (fresh condition) justru cenderung stabil, bahkan terus merangkak naik. Alhasil, memelihara mobil lawas kini tidak lagi dipandang sebagai pemborosan, melainkan sebuah instrumen investasi hobi yang menjanjikan. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani