Jawa Pos Radar Madiun – Lanskap dunia kerja di tahun 2026 mengalami pergeseran paradigma yang cukup masif. Istilah quiet quitting atau penolakan untuk bekerja melebihi deskripsi pekerjaan yang tertera di kontrak, kini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sudah menjadi prinsip kerja yang diadopsi secara luas, terutama oleh generasi Z (Gen Z).
Bagi generasi yang baru beberapa tahun mendominasi angkatan kerja ini, bekerja lembur tanpa upah demi mendapat label "karyawan teladan" sudah tidak lagi relevan. Mereka lebih memilih menarik garis batas yang tegas antara kehidupan profesional dan personal.
Lantas, apa yang melatarbelakangi fenomena quiet quitting ini semakin mengakar di kalangan Gen Z pada tahun 2026? Berikut adalah beberapa faktor utamanya:
Baca Juga: Tren Memelihara Mobil Lawas di Kalangan Gen Z: Alasan di Balik Berburunya SUV dan Sedan Era 2000-an
1. Prioritas Utama pada Kesehatan Mental
Gen Z merupakan generasi yang sangat melek terhadap isu kesehatan mental (mental health awareness). Menyaksikan generasi pendahulu mereka mengalami burnout kronis hingga depresi akibat kerja berlebihan membuat Gen Z mengambil langkah preventif. Bagi mereka, menjaga kewarasan pikiran jauh lebih berharga daripada mengejar validasi korporat yang mengorbankan waktu istirahat.
2. Tuntutan Kompensasi yang Setara
Prinsip "act your wage" atau bekerja sesuai dengan nominal gaji menjadi motor penggerak utama gerakan ini. Gen Z cenderung bersikap realistis. Ketika perusahaan menuntut produktivitas yang tinggi namun tidak diiringi dengan penyesuaian insentif, fasilitas kesehatan, atau kenaikan gaji yang adil, maka karyawan akan memilih untuk bekerja secukupnya sesuai dengan porsi yang dibayarkan.
3. Redefinisi Makna Kesuksesan
Bagi generasi sebelumnya, kesuksesan sering kali diukur dari jabatan tinggi, kepemilikan aset, dan dedikasi penuh pada satu perusahaan. Namun di tahun 2026 ini, Gen Z meredefinisi arti sukses tersebut. Sukses bagi mereka adalah ketika mampu memiliki waktu luang yang cukup untuk menyalurkan hobi, berkumpul dengan keluarga, menjalankan bisnis sampingan (side hustle), atau sekadar menikmati hidup tanpa bayang-bayang urusan kantor.
Fenomena di Lapangan: Quiet quitting bukanlah bentuk kemalasan atau aksi mogok kerja. Karyawan tetap menyelesaikan semua tugas utamanya dengan baik dan tepat waktu, namun mereka akan langsung menutup laptop tepat saat jam kantor usai (tenggo).
Respons Perusahaan di Tahun 2026
Fenomena ini tentu menjadi tamparan keras sekaligus tantangan baru bagi manajemen sumber daya manusia (HRD) di berbagai perusahaan. Model kepemimpinan kuno yang mengandalkan tekanan atau kultur hustle culture mulai ditinggalkan karena justru memicu tingginya angka perputaran karyawan (turnover).
Baca Juga: Fenomena Doom Spending di Kalangan Gen Z: Pelarian Instan di Tengah Bayang-Bayang Pesimisme Ekonomi
Untuk menghadapi tren ini, banyak perusahaan di tahun 2026 yang mulai berbenah dengan menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi, menerapkan jam kerja fleksibel, serta menghormati hak libur karyawan guna menjaga produktivitas tetap stabil tanpa paksaan. (*)
* Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani