Jawa Pos Radar Madiun - Generasi Z (Gen Z) kerap diidentifikasi sebagai generasi yang paling lekat dengan ponsel pintar. Namun, ada paradoks unik yang kini tengah terjadi. Mayoritas dari mereka justru merasa cemas, tidak nyaman, hingga mengalami anxious saat menerima panggilan telepon langsung secara mendadak tanpa adanya janji terlebih dahulu.
Fenomena yang kerap disebut sebagai voice call phobia ini menggeser preferensi komunikasi mereka. Gen Z jauh lebih nyaman berinteraksi lewat pesan teks panjang atau pesan suara (voice note). Format tersebut dinilai memberikan ruang bagi mereka untuk mengontrol kapan dan bagaimana harus merespons.
Baca Juga: Piddle Kembali Ngebut di Smile, Single Baru yang Lebih Santai tapi Tetap Nendang
Sudut Pandang Sosiologi Komunikasi: Invasi Ruang Privasi
Melihat fenomena ini dari kacamata sosiologi komunikasi, ada alasan mendalam mengapa nada dering telepon masuk kini dianggap sebagai sebuah "ancaman". Generasi yang tumbuh di era digital ini mengidentifikasi ponsel pintar mereka sebagai ruang privat yang sangat personal.
Ketika seseorang melakukan panggilan telepon langsung tanpa pemberitahuan, hal itu dianggap sebagai bentuk invasi terhadap ruang privasi dan waktu mereka secara paksa. Panggilan suara mendadak menuntut perhatian penuh secara instan (real-time synchronization), sesuatu yang dinilai agresif oleh Gen Z.
Sebaliknya, komunikasi asinkronus seperti teks atau voice note memberikan kebebasan bagi penerima pesan untuk mencerna informasi terlebih dahulu, menyusun jawaban yang tepat, dan membalasnya tanpa tekanan waktu. Bagi mereka, ini adalah bentuk penghormatan terhadap batasan personal masing-masing individu.
Pergeseran Etika Komunikasi di Dunia Kerja
Keberadaan voice call phobia ini tidak lagi sekadar urusan pertemanan, melainkan sudah merambah dan memengaruhi etika komunikasi di dunia kerja profesional saat ini. Kehadiran Gen Z di dunia kerja membawa kultur baru yang menantang kebiasaan lama para seniornya.
Kini, langsung menelepon rekan kerja atau bawahan dari generasi muda tanpa konfirmasi tertulis sebelumnya dianggap kurang sopan. Muncul sebuah standar etika baru yang tidak tertulis: texting before calling.
Baca Juga: Kamila Andini Raih Penghargaan Women in Cinema di Cannes 2026, Satu-satunya dari Indonesia
Sebelum melakukan panggilan suara, seseorang diharapkan mengirimkan pesan singkat terlebih dahulu untuk menanyakan kesediaan waktu, misalnya: "Halo, apakah ada waktu luang untuk telepon sebentar terkait projek X?". Langkah ini dinilai jauh lebih profesional karena menghargai ritme kerja dan kesehatan mental rekan kerja, sekaligus memastikan bahwa komunikasi yang akan berlangsung dapat berjalan lebih efektif dan terencana. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani