Jawa Pos Radar Madiun - Bagi Anda pengguna kendaraan bertransmisi otomatis (matic), memahami cara penggunaan tuas persneling yang tepat adalah sebuah keharusan. Kesalahan sepele dalam pengoperasian transmisi, terutama saat melewati rute tanjakan, dapat berakibat fatal dan menguras kantong akibat kerusakan girboks.
Salah satu kebiasaan yang kerap dilakukan pengemudi saat menghadapi jalan menanjak dan terjal adalah memindahkan tuas transmisi ke posisi L (Low).
Secara teknis, posisi ini memang berfungsi untuk menahan girboks di gigi rendah guna memeras tenaga dan memaksimalkan torsi mesin.
Namun yang perlu dicatat, menahan laju mobil secara terus-menerus menggunakan gigi rendah di putaran mesin (RPM) yang tinggi justru berpotensi memicu kerusakan serius di kemudian hari.
Risiko Transmisi Selip dan Overheat
Kepala Bengkel Nissan Setyabudi Semarang, Andika Herda Permana, menjelaskan bahwa kebiasaan memaksakan gigi L terlalu lama dapat membuat komponen penting seperti kopling ganda dan clutch disc pada mobil bertransmisi CVT (Continuously Variable Transmission) selip akibat gesekan dan overheat (panas berlebih).
"Risiko CVT mengalami selip karena kebiasaan pengemudi menggunakan gigi L terus dengan RPM sangat tinggi. Padahal, belum tentu torsi maksimum bisa diraih oleh mesin dengan menahan laju mobil di RPM maksimal mendekati red line," ujar Dika memperingatkan.
Baca Juga: Timex Ironman OG 1986 Revival, Jam Tangan Sport Legendaris dengan Nuansa Retro Futuristik
Kesalahan Umum saat Macet di Tanjakan
Selain memaksakan gigi L di putaran tinggi, ada satu lagi kesalahan umum yang kerap dilakukan pengemudi mobil matic saat melintasi rute pegunungan.
Kesalahan tersebut adalah malas memindahkan posisi tuas transmisi dari D (Drive) atau L ke posisi N (Neutral) atau P (Parking) saat terjebak kemacetan parah.
Alih-alih memindahkan tuas ke posisi netral untuk mengistirahatkan mesin, banyak pengemudi lebih memilih menahan rem sambil tetap memasukkan gigi dengan dalih agar lebih praktis.
"Pengemudi sering menahan posisi gigi transmisi tetap di D atau L dengan di tujuan memudahkan ketika stop and go. Tetapi, cara ini cukup berisiko karena komponen girboks transmisi jadi lebih panas. Jadi, sirkulasi pelumasan oli transmisi lebih lambat dan menimbulkan delay respon shifting gigi terlambat," kata Dika menjelaskan ruginya kebiasaan tersebut.
Untuk menjaga keawetan transmisi otomatis Anda, pastikan untuk menggunakan gigi sesuai dengan momentum dan kontur jalan, serta biasakan untuk menetralkan transmisi saat mobil harus berhenti lama di tengah kemacetan tanjakan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani