Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Fenomena Sandwich Generation: Alasan Sulit Putus Rantai & Solusi Finansialnya

Mizan Ahsani • Senin, 25 Mei 2026 | 17:25 WIB
Ilustrasi melamar pekerjaan
Ilustrasi melamar pekerjaan

Jawa Pos Radar Madiun - Bagi sebagian besar anak muda Indonesia di rentang usia 20 hingga 30-an, mencapai kemandirian finansial seringkali terasa seperti angan-angan. Alih-alih fokus membangun aset pribadi, mereka harus memikul beban ganda: membiayai hidup diri sendiri dan keluarga inti, sekaligus menanggung kebutuhan ekonomi orang tua. Fenomena sosiologis dan finansial inilah yang dikenal dengan istilah Sandwich Generation.

Baca Juga: Pelatih Hyundai Hillstate Pastikan Megawati Hangestri Akan Dapat Lebih Banyak Porsi Serangan 

Menjadi generasi "terjepit" bukanlah pilihan, melainkan realitas yang sering kali diwariskan. Lantas, mengapa rantai ini begitu sulit diputus di masyarakat kita, dan bagaimana cara anak muda saat ini bisa bertahan menyelamatkan masa depan finansial mereka?

Mengapa Rantai Sandwich Generation Sulit Diputus?

Terdapat kombinasi faktor budaya dan tantangan ekonomi makro yang membuat fenomena ini terus berulang dari generasi ke generasi:

Solusi Finansial untuk Memutus Rantai

Memutus rantai sandwich generation membutuhkan keberanian, kedisiplinan, dan perencanaan keuangan yang matang agar beban serupa tidak diwariskan ke generasi berikutnya. Berikut adalah langkah taktis yang bisa diterapkan:

  1. Komunikasi Finansial yang Terbuka Langkah pertama yang paling krusial adalah berani berbicara jujur tentang kondisi keuangan Anda kepada keluarga. Tetapkan batasan atau porsi anggaran (budget) yang rasional mengenai berapa nominal maksimal yang sanggup Anda berikan setiap bulannya, tanpa harus mengorbankan kebutuhan dasar dan tabungan Anda sendiri.

  2. Pastikan Proteksi Kesehatan Orang Tua Biaya medis tak terduga adalah salah satu penghancur finansial terbesar. Pastikan orang tua Anda memiliki asuransi kesehatan yang aktif, minimal BPJS Kesehatan. Hal ini akan mencegah tabungan Anda terkuras habis jika sewaktu-waktu orang tua membutuhkan perawatan medis intensif.

  3. Disiplin Arus Kas dan Dana Darurat Terapkan sistem pencatatan keuangan yang ketat. Pisahkan antara kebutuhan pokok, dana dukungan keluarga, dan tabungan pribadi. Prioritaskan untuk membangun dana darurat yang setara dengan 3 hingga 6 bulan pengeluaran bulanan guna mengantisipasi risiko kehilangan pekerjaan atau krisis lainnya.

  4. Mulai Berinvestasi untuk Pensiun Sendiri Prinsip utama memutus rantai ini adalah: jangan biarkan anak Anda kelak menjadi sandwich generation berikutnya. Sisihkan minimal 10% dari pendapatan Anda sejak dini untuk diinvestasikan ke instrumen jangka panjang (seperti reksa dana atau SBN) sebagai persiapan dana pensiun Anda sendiri.

Baca Juga: Lirik Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng” Viral di TikTok, Bikin Netizen Ketagihan dan Penuhi FYP

Menjadi sandwich generation memang menguras fisik dan mental. Namun, dengan pengelolaan keuangan yang terukur dan kesadaran untuk membenahi sistem keuangan keluarga, generasi muda saat ini memegang kunci utama untuk menghentikan siklus tersebut demi masa depan yang lebih merdeka secara finansial.

(*)

*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.

Editor : Mizan Ahsani
#sandwich generation #cara memutuskan #fenomena parenting #Gen Z #fenomena