Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Bahaya FOMO Bagi Gen Z: Dampak Buruk Tren Gaya Hidup pada Mental dan Keuangan

Mizan Ahsani • Selasa, 2 Juni 2026 | 14:00 WIB
ilustrasi FOMO (dropshipaja.com)
ilustrasi FOMO (dropshipaja.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) kini semakin mengakar kuat di kalangan Generasi Z (Gen Z). Derasnya arus informasi di media sosial membuat banyak anak muda merasa tertekan untuk terus mengikuti tren terbaru. Mulai dari kebiasaan nongkrong di kafe aesthetic yang sedang viral, memborong fashion kekinian, hingga memaksakan diri mengganti gadget ke seri paling mutakhir. Sayangnya, gaya hidup yang seolah tak pernah puas ini menyimpan bom waktu.

Baca Juga: Selamat Tinggal Feed Estetik! Tren Photo Dump Buktikan Gen Z Lebih Suka Konten Jujur Tanpa Filter

Keinginan untuk selalu divalidasi dan diakui eksistensinya oleh lingkungan pergaulan menjadi pemicu utama sindrom ini. Melihat unggahan teman sebaya yang terus memamerkan gaya hidup mewah kerap memicu perasaan cemas, gelisah, dan merasa tertinggal jika tidak ikut berpartisipasi. Padahal, realitas di media sosial sering kali hanyalah etalase yang sudah dipoles, bukan cerminan kehidupan sehari-hari yang sebenarnya.

Dampak pertama yang paling mengkhawatirkan dari FOMO adalah terganggunya kesehatan mental. Kebiasaan terus-menerus membandingkan diri dengan pencapaian atau gaya hidup orang lain memicu stres berlebih, rasa insecure, hingga depresi. Siklus ini membuat Gen Z merasa tidak pernah cukup dengan apa yang dimiliki. Standar kebahagiaan menjadi semu karena hanya diukur dari seberapa up-to-date mereka terhadap tren, bukan dari pengembangan diri yang substansial.

Selain menggerogoti mental, FOMO juga terbukti menjadi malapetaka bagi kesehatan finansial anak muda. Demi memuaskan hasrat eksistensi dan takut dicap "ketinggalan zaman", tidak sedikit Gen Z yang rela mengambil jalan pintas dengan berutang. Godaan fasilitas pinjaman online (pinjol) maupun paylater membuat mereka menguras tabungan dan menjebak diri dalam siklus utang beracun. Gaji atau uang saku bulanan yang seharusnya bisa diinvestasikan, justru habis terkuras untuk membayar cicilan gaya hidup konsumtif.

Baca Juga: Slow Living Bisa Mengubah FOMO Jadi JOMO, Hidup Lebih Tenang Tanpa Takut Tertinggal Tren

Sudah saatnya memutus rantai FOMO. Mengadopsi pola pikir Joy of Missing Out (JOMO) atau menikmati momen ketertinggalan dari hiruk-pikuk dunia maya bisa menjadi penawar terbaik. Fokuslah pada pengelolaan keuangan yang sehat dan realitas kehidupan nyata. Tidak ada salahnya tertinggal satu atau dua tren kafe dan gadget baru, asalkan masa depan finansial aman dan kewarasan mental tetap terjaga.(*)

 *Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura

Editor : Mizan Ahsani
#Fear Of Missing Out #gaya hidup #Gen Z #fomo #fenomena