Jawa Pos Radar Madiun - Mengatur keuangan di masa kuliah sering kali menjadi tantangan tersendiri. Di tengah arus informasi dan tren media sosial, muncul dua konsep gaya finansial yang kerap menjadi perbincangan di kalangan Generasi Z, yakni frugal living dan soft saving. Lantas, dari kedua pendekatan tersebut, mana yang sebenarnya lebih realistis dan cocok diterapkan oleh mahasiswa perantauan?
Frugal living atau gaya hidup hemat adalah konsep di mana seseorang sangat berhati-hati dan penuh kesadaran dalam mengeluarkan uang. Fokus utamanya adalah menekan pengeluaran konsumtif demi menabung lebih banyak atau mencapai tujuan finansial jangka panjang.
Baca Juga: Bukan Pelit, Ini Cara Menerapkan Frugal Living untuk Siasati Kenaikan Biaya Hidup
Bagi mahasiswa, ini berarti rela memangkas anggaran nongkrong di kafe, konsisten memasak bekal sendiri, dan menahan diri dari godaan tren fashion. Kelebihannya, kondisi keuangan dijamin aman dan terhindar dari krisis akhir bulan. Namun, jika diterapkan terlalu ekstrem, gaya ini rentan membuat mahasiswa merasa stres, terkekang, dan kehilangan momen sosial.
Di sisi lain, muncul tren soft saving yang merupakan antitesis dari frugal living yang kaku. Gaya finansial ini lebih luwes dan mengedepankan keseimbangan antara menabung dan menikmati hidup di masa sekarang.
Penganut soft saving tetap menyisihkan uang, namun tidak sampai mengorbankan anggaran untuk hiburan, hobi, atau kesehatan mental. Bagi mahasiswa yang tidak ingin masa mudanya berlalu dengan penuh tekanan, soft saving terasa lebih manusiawi.
Baca Juga: Bahaya FOMO Bagi Gen Z: Dampak Buruk Tren Gaya Hidup pada Mental dan Keuangan
Tantangannya, gaya ini menuntut kontrol diri yang kuat agar dalih self-reward tidak membuat tabungan justru jalan di tempat.
Menentukan mana yang lebih baik sangat bergantung pada kondisi finansial dasar masing-masing individu. Jika uang saku bulanan memang pas-pasan, mengadopsi prinsip frugal living adalah langkah paling logis agar bisa bertahan hidup tanpa berutang.
Sebaliknya, jika mahasiswa memiliki kelonggaran dana atau penghasilan tambahan dari kerja paruh waktu, soft saving bisa diterapkan agar kehidupan sosial dan kewarasan mental tetap terjaga.
Kunci terpentingnya bukanlah memilih salah satu secara kaku, melainkan kemampuan mencari titik tengah. Menggabungkan kedisiplinan frugal living pada pos kebutuhan pokok dengan fleksibilitas soft saving pada pos hiburan adalah resep ideal untuk menjaga dompet tetap aman dan pikiran tetap tenang selama masa kuliah.
(*) *Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani