Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Produsen Mobil China Mulai Terapkan Leasing Lintas Negara, Bagaimana Skema Cicilannya?

Satrio Jati • Minggu, 7 Juni 2026 | 17:27 WIB
SUV listrik GAC Aion N60 dibanderol dengan harga Rp 200 jutaan. (EV NEWS)
SUV listrik GAC Aion N60 dibanderol dengan harga Rp 200 jutaan. (EV NEWS)

Jawa Pos Radar Madiun - Produsen mobil asal China kini perlahan mulai meninggalkan model penjualan tradisional secara satu kali saat memasarkan produknya di pasar internasional.

Langkah strategis ini terpaksa diambil sebagai respons atas semakin besarnya hambatan perdagangan, mulai dari tingginya tarif impor hingga ketatnya syarat kandungan lokal.

Melansir laporan dari Carnewschina pada akhir pekan lalu, strategi baru berupa skema penyewaan lintas negara atau cross-border leasing kini justru semakin diminati.

Pendekatan ini dinilai para pelaku industri sebagai jalur ekspansi global yang jauh lebih praktis dan berkelanjutan bagi otomotif negeri Tirai Bambu tersebut.

Menurut data terbaru China Passenger Car Association (CPCA), angka ekspor kendaraan dari China sukses menembus 769.000 unit pada bulan April lalu.

Angka fantastis tersebut mencerminkan lonjakan pengiriman sebesar 80,7 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Hasil Final Tunggal Putri Indonesia Open 2026: An Se-young Sukses Pertahankan Gelar Juara, Akui Ketangguhan Tuan Rumah

Secara kumulatif selama empat bulan pertama di tahun 2026 ini, total ekspor kendaraan dari China telah sukses mencapai angka 3,127 juta unit.

Kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) tercatat mendominasi dan menyumbang hampir setengah dari total jumlah ekspor keseluruhan tersebut.

Mengingat model perdagangan tradisional "bayar saat barang dikirim" dinilai semakin kurang efektif, produsen kini mantap beralih ke skema leasing lintas negara.

Melalui pendekatan mutakhir ini, pihak pabrikan tetap mempertahankan status kepemilikan kendaraan di China sementara pengguna di luar negeri membayar melalui sistem cicilan.

Fokus utama ekspor pun secara otomatis bergeser dari sekadar transaksi penjualan produk satu kali menjadi skema perdagangan jasa dalam jangka panjang.

Berbeda dengan ekspor tradisional yang langsung memindahkan kepemilikan kepada konsumen, skema pembiayaan ini memungkinkan perusahaan tetap mengendalikan aset fisik kendaraan.

Para eksportir juga berkesempatan memperoleh manfaat finansial tambahan berupa pengembalian pajak pertambahan nilai (PPN) di dalam negeri yang membuat arus kas lebih sehat.

Baca Juga: MBG Jadi Harapan Baru Petani Pacitan, DPRD Dorong Pengelolaan Produksi Secara Berkelompok

Skema leasing ini turut mengubah beban biaya awal yang sangat tinggi menjadi pembayaran berkala yang jauh lebih terjangkau bagi konsumen di luar negeri.

Pabrikan otomotif pun akhirnya bisa membuka keran permintaan di pasar-pasar negara berkembang yang sistem pembiayaan otomotifnya belum terlalu matang.

Selain itu, perusahaan mampu memperoleh aliran pendapatan jangka panjang dengan mengikat pelanggan melalui kontrak layanan perawatan dan asuransi secara berkelanjutan.

Model bisnis yang cerdas ini sering digambarkan oleh para pakar ekonomi otomotif sebagai sebuah pendekatan "aset ringan, operasi berat".

Predikat ringan disematkan karena perusahaan tidak perlu berinvestasi besar-besaran untuk membangun pabrik raksasa atau membeli lahan secara fisik di negara tujuan.

Namun, pendekatan ini disebut berat karena menuntut kemampuan operasional lokal yang sangat mumpuni, seperti manajemen aset hingga kemampuan menilai risiko kredit pelanggan.

Guna menekan risiko kredit macet, saat ini sebagian besar perusahaan pembiayaan masih berfokus membidik pelanggan korporat atau business-to-business (B2B).

Baca Juga: Hasil Race Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Posisi 15, Quiles Juara 

Operator armada transportasi daring sering menjadi target utama karena profil kredit mereka jauh lebih transparan dan mudah dikelola dibandingkan konsumen individu.

Salah satu perusahaan penyewaan ternama asal China, Huasheng, diketahui telah memulai operasi bisnis ini secara masif di wilayah Uzbekistan dan Afrika Selatan.

Perusahaan raksasa tersebut juga baru saja mengumumkan negara Pakistan sebagai pusat pangkalan operasional besar mereka yang berikutnya.

Huasheng aktif bekerja sama dengan berbagai lembaga pembiayaan dan mitra ekosistem lokal untuk menyediakan layanan pengelolaan aset yang terintegrasi secara komprehensif.

Berdasarkan bocoran dari sumber internal, tercatat sudah ada lebih dari 30 produsen dan merek otomotif China yang menyatakan minat kuat terhadap model kolaboratif ini.

Merek-merek ternama seperti Dongfeng, Chery, GAC, hingga BAIC dilaporkan siap mengadopsi skema mutakhir ini untuk menggempur pasar otomotif global secara lebih agresif. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#Mobil China #Sewa Mobil #impor #mobil listrik #leasing