Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Salah Habitat! Ketika "Penyalahgunaan" Fungsi Sepatu Sport Jadi Tren Gaya Hidup "Kasual" Masa Kini

Mizan Ahsani • Senin, 8 Juni 2026 | 11:11 WIB
Ilustrasi rekomendasi sepatu gunung untuk pemula. (Adidas)
Ilustrasi rekomendasi sepatu gunung untuk pemula. (Adidas)

Jawa Pos Radar Madiun - Beberapa dekade lalu, mengenakan sepatu lari untuk pergi bekerja ke kantor atau memadukan sepatu basket dengan celana bahan untuk sekadar nongkrong di kafe mungkin akan dianggap sebagai "salah kostum".

Sepatu olahraga diciptakan secara spesifik untuk satu tujuan: menunjang performa atletik di lapangan.

Namun saat ini, kita menyaksikan fenomena unik di mana "penyalahgunaan" fungsi sepatu sport justru dianggap lumrah.

Sepatu yang sejatinya didesain untuk menyerap benturan keras di lintasan lari kini telah beralih habitat, merajai jalanan kota, area kampus, hingga ruang rapat perkantoran sebagai standar gaya hidup masa kini.

Baca Juga: Sepatu Kulit Asli Cepat Pecah dan Berjamur? Ini 5 Rahasia Perawatan Ekstra agar Awet Bertahun-tahun!

Kenyamanan Atletik untuk Rutinitas Harian
Alasan utama mengapa masyarakat modern dengan senang hati "menyalahgunakan" fungsi asli sepatu olahraga adalah kenyamanan paripurna yang ditawarkannya.

Produsen sepatu sport menyematkan teknologi tingkat tinggi pada produk mereka, mulai dari material mesh yang ringan dan memiliki sirkulasi udara baik, hingga teknologi bantalan (midsole) yang empuk.

Teknologi busa empuk yang awalnya dirancang untuk menahan beban lutut pelari maraton, kini dinikmati oleh para pekerja komuter yang harus berdiri lama di kereta atau berjalan kaki menyusuri trotoar kota.

Kenyamanan ini membuat banyak orang enggan kembali memakai sepatu pantofel kulit atau loafers bersol keras yang menyiksa kaki.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Sepatu Lari Anak Terbaik, Harga Mulai Rp 400 Ribuan Cukup untuk Kurangi Risiko Cedera

Runtuhnya Aturan Busana Formal
Fenomena berkembangnya sneakers bergaya sportstyle ini juga didorong oleh kuatnya pengaruh budaya streetwear.

Batas antara pakaian olahraga, pakaian kasual, dan pakaian kerja kini semakin kabur.

Banyak perusahaan modern, perusahaan rintisan (startup), hingga industri kreatif mulai melonggarkan aturan berpakaian (dress code) mereka.

Datang ke kantor dengan kaus polos, celana chino, dan sneakers sport kini dianggap sebagai simbol profesional muda yang dinamis dan aktif.

Karakter sepatu sport yang fleksibel dengan pilihan desain minimalis berwarna netral seperti putih, hitam, dan abuabu membuatnya sangat mudah dipadukan dengan berbagai jenis pakaian seharihari tanpa terlihat berlebihan.

Baca Juga: Rekomendasi Sepatu Senam Wanita Terjangkau, Tampil Stylish dengan Harga Mulai Rp 300 Ribuan

Strategi Brand dan Gempuran Media Sosial
Melihat pergeseran fungsi ini sebagai peluang bisnis yang menggiurkan, brandbrand raksasa seperti Nike, Adidas, New Balance, hingga Asics tidak tinggal diam.

Mereka tidak lagi hanya memfokuskan diri pada lini sepatu performa olahraga, melainkan serius menggarap lini sportstyle.

Mereka rutin menghidupkan kembali siluet sepatu lari klasik era 80an hingga 2000an yang tebal (chunky sneakers) dan memberi sentuhan warna bold atau neon yang ekspresif.

Tren nostalgia ini kemudian digemakan secara masif oleh para influencer dan sneakerhead melalui platform digital seperti Instagram dan TikTok.

Alhasil, arus informasi yang cepat ini sukses menciptakan standar gaya hidup baru di kalangan generasi muda.

Pergeseran fungsi sepatu sport ini bukanlah sebuah kesalahan mode, melainkan evolusi cara berpakaian masyarakat modern yang menolak berkompromi antara estetika dan fungsi.

Sepatu sport kini telah menemukan rumah barunya sebagai fondasi gaya hidup yang mengutamakan kenyamanan absolut dan kebebasan berekspresi. (*)

*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura.

Editor : Mizan Ahsani
#Sepatu Sport #kasual #lifestyle #sepatu #fashion