Jawa Pos Radar Madiun - Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Mata mulai terasa perih dan Anda sangat sadar bahwa esok pagi ada tumpukan pekerjaan yang menanti. Namun, jemari seolah menolak berhenti melakukan scrolling di layar gawai. Jika Anda sering mengalami siklus ini, Anda tidak sendirian. Ini bukanlah sekadar insomnia biasa, melainkan sebuah fenomena psikologis modern yang dikenal dengan sebutan Revenge Bedtime Procrastination (penundaan waktu tidur balas dendam).
Di tengah padatnya ritme kerja saat ini, fenomena ini semakin menjamur. Mengapa secara logis kita menyadari butuh istirahat, namun secara sadar rela menyabotase waktu tidur yang berharga tersebut?
Baca Juga: Tidur Sudah 8 Jam tapi Tetap Mengantuk? Waspadai 7 Faktor Tak Terduga Ini
Balas Dendam karena Kehilangan Kendali
Dari sudut pandang psikologi, perilaku menunda tidur ini merupakan bentuk "pemberontakan" dari alam bawah sadar. Sepanjang hari, waktu dan energi kita habis tersedot untuk memenuhi ekspektasi serta tuntutan orang lain—mulai dari atasan di kantor, tenggat waktu proyek, hingga rutinitas domestik. Praktis, kita merasa tidak memiliki ruang untuk bernapas dan kehilangan otonomi atas waktu kita sendiri.
Ketika malam tiba dan lingkungan sekitar mulai senyap, itulah satu-satunya momen otonom di mana tidak ada lagi pihak yang menuntut perhatian. Bermain ponsel berjam-jam, maraton serial streaming, atau sekadar membaca utas di media sosial menjadi cara instan untuk "merebut kembali" kebebasan yang hilang pada siang hari. Ini adalah bentuk kompensasi atas minimnya me-time.
Lingkaran Setan Ilusi Kebebasan
Meskipun terasa memuaskan secara emosional sesaat, revenge bedtime procrastination sejatinya adalah ilusi kebebasan yang menciptakan lingkaran setan. Memotong jam tidur demi hiburan sesaat akan membuat Anda terbangun dengan kondisi fisik dan mental yang kelelahan. Akibatnya, mood berantakan, stres saat bekerja meningkat, dan pada malam harinya, Anda akan kembali merasa butuh "balas dendam" lagi akibat hari yang berat.
Cara Memutus Rantai Penundaan Tidur
Untuk menghentikan kebiasaan ini, solusinya bukan sekadar meminum obat tidur atau memaksa mata terpejam, melainkan membenahi manajemen stres di siang hari. Cobalah untuk menjadwalkan me-time berskala mikro di sela-sela jam kerja, misalnya dengan melakukan peregangan, membaca beberapa halaman buku, atau menikmati camilan tanpa melihat layar komputer. Menetapkan batasan yang jelas antara urusan pekerjaan dan kehidupan personal juga menjadi kunci.
Selain itu, mulailah menciptakan rutinitas malam yang menenangkan (wind-down routine). Jauhkan ponsel dari jangkauan tangan minimal 30 menit sebelum jadwal tidur ideal Anda. Mengapresiasi diri sendiri setelah seharian bekerja keras memang hal yang valid, namun perlu diingat bahwa memberi tubuh hak istirahat yang layak adalah bentuk self-reward yang paling sejati.
(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani