Jawa Pos Radar Madiun - Industri kreatif sering kali dielu-elukan sebagai lingkungan kerja yang dinamis, santai, dan penuh kebebasan berekspresi. Namun, di balik fasad meja pingpong dan aturan berpakaian kasual, tersimpan ancaman psikologis yang kerap tak disadari: toxic positivity. Budaya kepositifan beracun ini umumnya berlindung di balik jargon-jargon manis manajemen seperti "kita bekerja dengan hati" atau "anggap saja kantor ini seperti keluarga sendiri".
Baca Juga: Kenan Yildiz Dipuji Totti sebagai Pemain Modern, tapi Dianggap Belum Punya Jiwa Nomor 10 Sejati
Bagi generasi pekerja saat ini, lingkungan yang memaksakan aura positif secara berlebihan justru menyimpan potensi bahaya yang serius. Berikut adalah bagaimana jargon-jargon tersebut secara perlahan memicu kehancuran mental atau burnout di kalangan pekerja kreatif:
1. Manipulasi Emosional Berkedok Loyalitas Keluarga
Ketika perusahaan melabeli entitas operasionalnya sebagai "keluarga", batas antara profesionalisme dan eksploitasi sering kali menjadi kabur. Karyawan secara emosional ditekan untuk memaklumi lembur tak berbayar, menanggung beban kerja melampaui job description, hingga merelakan waktu istirahat atas nama pengorbanan. Menolak instruksi kerja di luar jam operasional sering kali memicu rasa bersalah karena seolah dianggap "mengkhianati" komitmen keluarga.
2. Hilangnya Ruang Aman untuk Memvalidasi Stres
Dampak paling fatal dari toxic positivity adalah terbungkamnya emosi negatif yang sebenarnya sangat valid. Dalam lingkungan yang menuntut semua orang untuk selalu optimis dan produktif, karyawan merasa tidak memiliki ruang aman untuk menyuarakan rasa lelah atau kritik terhadap sistem kerja yang tidak efisien. Mengeluh sedikit saja rentan dicap sebagai sosok yang "kurang tangguh", "banyak alasan", atau dituduh merusak semangat tim.
3. Burnout Akut Akibat Bom Waktu Psikologis
Menekan stres dan memalsukan senyum secara terus-menerus ibarat menabung bom waktu psikologis. Emosi negatif dan kelelahan fisik yang tidak pernah diakui tidak akan menguap begitu saja, melainkan menumpuk hingga kapasitas mental hancur. Hasilnya, pekerja akan memasuki fase burnout akut. Mereka mengalami kelelahan kronis, kreativitas yang mati rasa, hingga demotivasi yang berujung pada tingginya angka turnover (karyawan keluar-masuk) di perusahaan.
Baca Juga: Dilema Seret atau Lambung Rusak? Mengupas Mitos Pantangan Minum di Sela Makan
Membangun kultur kerja yang sehat bukan berarti memaksakan kebahagiaan palsu setiap saat. Perusahaan kreatif yang benar-benar memanusiakan karyawannya adalah yang mampu menghargai batasan profesional, memvalidasi rasa lelah, dan menyediakan ruang aman untuk mengevaluasi kegagalan. Bekerja dengan hati memang penting, namun menormalkan kelelahan adalah kunci agar karyawan tetap waras dan produktif.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunodjoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani