Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Harga Oli dan Spare Part Mahal Gara-Gara Dollar, Konsumen Pindah ke Produk Aftermarket

Satrio Jati • Selasa, 9 Juni 2026 | 19:53 WIB
Ilustrasi oli mesin mobil.
Ilustrasi oli mesin mobil.

Jawa Pos Radar Madiun - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang kini menembus level Rp18.000 ternyata tidak menyurutkan kesadaran para pemilik kendaraan.

Mereka terpantau tetap rutin melakukan perawatan berkala di bengkel sesuai jadwal demi menjaga performa mobil kesayangannya.

Founder bengkel independen Anyar Motor, Bram, membenarkan bahwa aktivitas servis kendaraan di tempatnya masih berjalan dengan sangat normal.

Kondisi tersebut tetap stabil meski biaya beberapa komponen otomotif mulai mengalami penyesuaian harga imbas tingginya nilai tukar mata uang asing.

"Hingga saat ini, tidak ada perubahan pola perawatan. Konsumen tetap datang sesuai jadwal servis seperti biasa," ungkap Bram, mengutip ANTARA pada Senin (8/6).

Menurutnya, dampak pelemahan rupiah justru paling terasa pada lonjakan harga bahan baku dan suku cadang yang selama ini masih bergantung pada pasokan impor.

Harga pelumas atau oli tercatat mengalami kenaikan sekitar 10 hingga 17 persen terhitung sejak awal tahun 2026.

Sementara itu, bahan baku untuk keperluan perbaikan bodi kendaraan seperti cat, pernis, dan dempul tercatat mengalami kenaikan tajam hingga menyentuh angka 20 persen.

Menariknya, di tengah situasi ekonomi yang sedang tertekan ini, bengkel independen miliknya justru terus kedatangan banyak pelanggan baru.

Sebagian besar pelanggan baru tersebut rupanya merupakan para pemilik kendaraan yang masa garansi resminya dari diler pabrikan telah habis.

Baca Juga: Kumbayana dan Sumpah di Tepi Laut Bagian 1: Ucapan Selamat kepada Sucitra

Siasat Beralih ke Suku Cadang Alternatif

Fenomena tingginya kesadaran merawat kendaraan ini turut diamini oleh Ardhi Setyo, salah seorang konsumen yang tengah melakukan perbaikan kaki-kaki mobilnya.

Menurut Ardhi, perbaikan komponen vital kendaraan berusia enam tahun miliknya harus tetap diprioritaskan meskipun harga suku cadang sedang melambung.

Untuk mengakali tingginya harga di kategori komponen orisinal, ia memilih menggunakan produk aftermarket yang kualitasnya telah teruji di pasaran.

"Harga yang cukup terjangkau dan kekuatannya juga tidak jauh berbeda ya," ucap Ardhi membeberkan alasan logisnya.

Melonjaknya harga komponen pabrikan kini memang membuka peluang emas bagi perluasan dominasi pasar suku cadang aftermarket.

Produk alternatif dengan rekam jejak kualitas mumpuni dari Jepang, Taiwan, maupun Eropa kini semakin banyak dipertimbangkan konsumen sebagai opsi yang jauh lebih ekonomis.

Menghindari Kerusakan Fatal

Senada dengan pandangan Ardhi, konsumen lain bernama Randi juga mengaku tidak keberatan dengan adanya penyesuaian harga pelumas mesin.

Ia dengan sadar tetap melakukan perawatan rutin demi menghindari kerusakan komponen yang justru akan menguras dompet lebih dalam jika dibiarkan.

"Perawatan kendaraan juga kan tetap harus dijalankan. Kalau tidak, pengeluaran biaya perbaikan malah justru lebih tinggi kalau tidak rutin," tegas Randi.

Di tengah tekanan fluktuasi nilai tukar ini, para pelaku industri perbengkelan melihat adanya pergeseran perilaku belanja yang positif.

Konsumen masa kini menjadi jauh lebih selektif dan pintar dalam memilih komponen tanpa harus mengorbankan jadwal kelayakan perawatan kendaraan mereka. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#servis mobil #dollar naik #suku cadang mahal #harga naik #rupiah