Jawa Pos Radar Madiun - BYD yang saat ini menduduki posisi sebagai produsen mobil terbesar keenam di dunia rupanya memiliki ambisi yang jauh lebih masif.
Pabrikan asal Tiongkok tersebut secara terbuka menargetkan untuk menjadi produsen mobil nomor satu di dunia dengan mengungguli raksasa otomotif seperti Grup Volkswagen dan Toyota.
Melansir laporan Carscoops pada Kamis (11/6) waktu setempat, ambisi besar tersebut diungkapkan langsung oleh Pimpinan BYD, Wang Chuanfu.
Dalam rapat tahunan pemegang saham yang digelar di Shenzhen, Wang dengan penuh percaya diri menyebut target tersebut bisa dicapai dalam waktu lima tahun ke depan.
Menurutnya, kehadiran teknologi mutakhir dari Blade Battery generasi kedua akan menjadi kunci utama dari langkah ekspansi besar-besaran perusahaan.
"BYD benar-benar akan menjadi produsen mobil nomor satu secara global dalam lima tahun ke depan," ujar Wang dengan optimis di hadapan para pemegang saham.
Baca Juga: Profil Yasin Ayari, Gelandang Swedia Pencetak Brace ke Gawang Tunisia di Piala Dunia 2026
Tantangan Berat Menyalip Toyota
Tentu saja, merealisasikan pernyataan berani tersebut di lapangan akan jauh lebih sulit dibandingkan sekadar menyusun rencana di atas kertas.
Banyak analis menilai pernyataan bos BYD tersebut terinspirasi dari strategi Elon Musk untuk mendongkrak harga saham perusahaan yang sempat anjlok 45 persen selama setahun terakhir.
Terlebih lagi, BYD harus tumbuh secara luar biasa pesat dalam lima tahun ke depan untuk bisa menyusul dominasi penjualan Toyota.
Sebagai perbandingan, tahun lalu BYD menjual 4,6 juta kendaraan, yang angkanya masih kurang dari setengah total 11,21 juta unit penjualan Toyota Motor Corporation.
Bahkan jika dihitung tanpa sokongan merek Lexus dan Daihatsu, bendera Toyota sendirian masih sanggup menjual hingga 9,6 juta unit mobil di seluruh dunia.
Untuk menyaingi pencapaian tersebut, BYD diwajibkan untuk meningkatkan penjualannya setidaknya sebesar satu juta unit setiap tahun selama lima tahun ke depan.
Perlambatan Pasar Domestik
Langkah berat BYD juga dipastikan akan sangat dipengaruhi oleh tren perlambatan ekonomi yang saat ini tengah meluas di seluruh penjuru Tiongkok.
Perlambatan daya beli tersebut terbukti telah menghambat laju pertumbuhan BYD di pasar domestiknya sendiri yang biasanya menjadi lumbung penjualan utama.
Pada bulan Mei lalu, perusahaan tercatat hanya mampu menjual 207.372 kendaraan di Tiongkok, yang berarti turun 29,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Untuk mengimbangi merosotnya permintaan di negara asalnya, BYD harus bergerak cepat melakukan ekspansi bisnis ke berbagai pasar internasional yang baru.
Salah satu langkah paling krusial yang diprediksi akan segera digarap serius oleh perusahaan adalah menjadikan Kanada sebagai salah satu target pasar terpenting mereka. (naz)
Editor : Mizan Ahsani