Jawa Pos Radar Madiun - Tahun 2026 menjadi tahun yang bersejarah bagi Samsung di pasar wearable.
Galaxy Watch 8 tidak hanya hadir sebagai penerus dari generasi sebelumnya — ia membawa sesuatu yang belum pernah ada di smartwatch konsumen sebelumnya: kemampuan memantau kadar glukosa darah secara non-invasif.
Tidak perlu jarum, tidak perlu test strip.
Cukup dengan sensor di pergelangan tangan.
Terobosan Terbesar: Monitor Glukosa Non-Invasif
Selama bertahun-tahun, pemantauan glukosa darah hanya bisa dilakukan dengan menusuk jari menggunakan jarum kecil.
Galaxy Watch 8 mengubah itu.
Sensor BioActive generasi terbaru yang disematkan Samsung mampu memperkirakan kadar glukosa darah pengguna secara kontinu dan tanpa rasa sakit sebuah fitur yang tidak hanya berguna bagi penderita diabetes, tapi juga bagi siapa pun yang ingin memantau pola makan dan metabolisme tubuhnya.
Ini adalah fitur yang bahkan Apple Watch Series 11 belum miliki, dan menjadikan Galaxy Watch 8 sebagai pemimpin di kategori sensor kesehatan untuk tahun 2026.
Sensor BioActive: Lebih dari Sekadar Detak Jantung
Sensor BioActive di Galaxy Watch 8 tidak hanya mengukur glukosa.
Dalam satu sensor terintegrasi, perangkat ini mampu memantau:
- EKG (Elektrokardiogram) untuk mendeteksi irama jantung tidak normal
- Komposisi tubuh (BIA) mengukur persentase lemak, massa otot, dan kadar air tubuh
- SpO₂ saturasi oksigen darah secara real-time
- Detak jantung pemantauan 24 jam secara kontinu
- Deteksi jatuh secara otomatis menghubungi kontak darurat jika terdeteksi jatuh keras
Kombinasi ini menjadikan Galaxy Watch 8 salah satu smartwatch dengan fitur kesehatan paling komprehensif yang tersedia di pasaran saat ini.
Galaxy AI: Analisis yang Lebih Cerdas dan Personal
Galaxy Watch 8 berjalan di atas Wear OS terbaru dengan dukungan Galaxy AI dari Samsung.
Fitur AI ini tidak hanya mengumpulkan data ia menganalisis pola kesehatan pengguna dari waktu ke waktu dan memberikan rekomendasi yang semakin personal.
Misalnya, AI dapat mendeteksi bahwa kualitas tidur pengguna menurun saat kadar stres meningkat, lalu menyarankan penyesuaian rutinitas malam hari yang spesifik.
Semakin lama digunakan, semakin relevan sarannya.
Baca Juga: Tugas Anak Belajar, Bukan Turun ke Jalan: Imbauan Kemen PPPA yang Kembali Jadi Sorotan
Baterai yang Akhirnya Memuaskan
Salah satu keluhan terbesar pengguna smartwatch selama ini adalah daya tahan baterai.
Galaxy Watch 8 menjawab keluhan itu dengan baterai yang mampu bertahan hingga 3 hari penuh dalam penggunaan normal jauh melampaui Apple Watch Series 11 yang masih mengharuskan pengisian daya setiap 2 hari.
Untuk pengguna aktif yang sering bepergian atau tidak ingin repot mengisi daya setiap malam, ini adalah keunggulan yang sangat praktis.
Desain dan Layar
Galaxy Watch 8 hadir dengan desain bulat klasik yang bagi banyak orang terasa lebih menyerupai jam tangan tradisional.
Layar Super AMOLED-nya tajam dan tetap nyaman dibaca di luar ruangan, bahkan di bawah sinar matahari langsung.
Tersedia dalam beberapa pilihan ukuran, material, dan warna dengan opsi tali yang bisa diganti sesuai selera.
Harga dan Kompatibilitas
Galaxy Watch 8 tersedia dalam beberapa varian harga, berkisar antara Rp5 juta hingga Rp8 jutaan tergantung ukuran dan spesifikasi.
Keunggulan besar Galaxy Watch 8 dibanding Apple Watch adalah kompatibilitasnya yang lebih luas bisa dipasangkan dengan hampir semua ponsel Android, bukan hanya Samsung Galaxy.
Meski fitur tertentu tetap optimal saat digunakan bersama perangkat Samsung, pengguna Xiaomi, Oppo, atau merek Android lain pun tetap bisa memanfaatkan sebagian besar fiturnya.
- Harga: Rp5-8 jutaan (tergantung varian)
- OS: Wear OS + One UI Watch
- Fitur unggulan: Sensor glukosa non-invasif, BioActive sensor, Galaxy AI
- Baterai: Hingga 3 hari penggunaan normal
- Kompatibilitas: Semua perangkat Android
Pilihan Paling Masuk Akal untuk Pengguna Android
Jika menggunakan smartphone Android dan ingin mendapatkan smartwatch dengan fitur kesehatan paling canggih yang tersedia di 2026, Galaxy Watch 8 adalah jawabannya.
Sensor glukosa non-invasif saja sudah cukup untuk menjadikannya berbeda dari kompetitor mana pun di kelas yang sama. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun