Jawa Pos Radar Madiun - Jam tiga sore, Rani menatap layar laptop tanpa benar-benar membacanya.
Tiga malam terakhir ia tidur kurang dari lima jam karena deadline kantor.
Hasilnya bukan produktivitas yang naik, justru ide yang mandek dan emosi yang mudah tersulut.
Yang Rani alami bukan kebetulan riset neurosains menunjukkan otak benar-benar "bekerja" justru saat kita tertidur.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Saat Tidur?
Selama fase tidur dalam, otak memindahkan informasi dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Proses ini disebut konsolidasi memori.
Di waktu yang sama, otak juga membersihkan sisa metabolisme, termasuk protein beta-amiloid yang jika menumpuk dikaitkan dengan risiko gangguan kognitif di usia tua.
Jadi tidur bukan sekadar "istirahat", melainkan proses perawatan aktif bagi sistem saraf.
Dampak Kurang Tidur bagi Produktivitas
Saat waktu tidur dipotong, bagian otak yang disebut korteks prefrontal pusat pengambilan keputusan dan kontrol emosi menjadi kurang aktif.
Akibatnya muncul tiga gejala klasik: sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan daya ingat menurun.
Inilah sebabnya orang yang kurang tidur sering merasa kerja lebih lama tapi hasilnya tidak maksimal.
Berapa Jam Tidur yang Ideal?
Orang dewasa umumnya membutuhkan tujuh hingga sembilan jam tidur setiap malam.
Durasi ini penting agar siklus tidur lengkap mulai dari tidur ringan, tidur dalam, hingga fase REM bisa terlewati secara utuh.
Memotong jam tidur secara rutin, meski hanya satu hingga dua jam, dapat terakumulasi menjadi "utang tidur".
Utang tidur ini berdampak jangka panjang pada kesehatan jantung dan metabolisme.
Tips Praktis Tidur Lebih Berkualitas
Tetapkan jam tidur dan bangun yang konsisten setiap hari.
Hindari layar gawai minimal 30 menit sebelum tidur.
Jaga kamar tetap gelap dan sejuk, serta batasi konsumsi kafein setelah jam tiga sore.
Konsistensi jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar tidur lebih lama di akhir pekan
Baca Juga: Setelah Empat Tahun, Harry dan Meghan Akhirnya Pulang ke Inggris, Tanda Hubungan Kerajaan Mulai Mencair?.
Pada akhirnya, tidur bukan kemewahan yang bisa dikorbankan demi produktivitas.
Justru sebaliknya tidur yang cukup adalah investasi langsung untuk otak yang lebih tajam dan emosi yang lebih stabil esok hari. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun