Jawa Pos Radar Madiun - Seorang anak berusia tujuh tahun begitu cekatan membuka aplikasi video dan mencari konten favoritnya sendiri.
Orang tuanya bangga melihat kemampuan itu.
Tanpa sadar, kecekatan teknis tidak sama dengan pemahaman tentang risiko yang mengintai di baliknya.
Kenapa Literasi Digital Penting Sejak Dini?
Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan gawai.
Ini juga pemahaman tentang cara menyaring informasi, mengenali konten berbahaya, serta menjaga data pribadi.
Anak yang terbiasa menggunakan teknologi tanpa bimbingan berisiko terpapar konten tidak sesuai usia atau interaksi daring yang tidak aman.
Risiko Jika Anak Tidak Dibekali Literasi Digital
Tanpa pemahaman yang cukup, anak rentan terpapar misinformasi dan perundungan daring (cyberbullying).
Risiko eksploitasi oleh pihak yang tidak dikenal juga semakin nyata.
Ini seiring makin mudahnya akses internet melalui perangkat pribadi sejak usia dini.
Baca Juga: WFH Bukan Liburan, Ini Alasan Kenapa Banyak Orang Salah Kaprah
Cara Orang Tua Mendampingi Anak di Dunia Digital
Pendampingan aktif jauh lebih efektif dibanding sekadar membatasi waktu pemakaian gawai.
Berdiskusi tentang konten yang ditonton dan menetapkan aturan penggunaan bersama bisa jadi langkah awal.
Menggunakan fitur kontrol orang tua juga membantu tanpa membuat anak merasa diawasi berlebihan.
Tips Praktis Membangun Kebiasaan Sehat Bermedia
Menetapkan zona bebas gawai seperti saat makan bersama adalah langkah sederhana namun efektif.
Mendorong aktivitas fisik sebagai alternatif hiburan juga membantu.
Jadi contoh penggunaan gawai yang sehat di depan anak punya dampak besar dalam jangka panjang.
Literasi digital sejak dini bukan tentang menjauhkan anak dari teknologi.
Ini soal membekali mereka agar mampu menggunakannya secara cerdas dan aman, sebagaimana mereka belajar aturan keselamatan di dunia nyata. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun