Jawa Pos Radar Madiun - Setelah lima belas menit men-scroll linimasa berisi liburan, pencapaian karier, dan tubuh ideal orang lain, muncul perasaan hampa yang sulit dijelaskan.
Perasaan ini bukan kebetulan.
Penelitian psikologi menunjukkan keterkaitan kuat antara durasi penggunaan media sosial dan tingkat kecemasan, terutama pada kalangan muda.
Media Sosial: Pisau Bermata Dua
Di satu sisi, media sosial membantu memperluas koneksi dan menjadi sarana ekspresi diri.
Namun di sisi lain, algoritma yang dirancang untuk membuat pengguna terus terpaku justru bisa berisiko.
Algoritma ini sering menampilkan konten yang memicu perbandingan sosial secara berlebihan.
Fenomena "Comparison Trap" yang Diam-diam Menggerogoti
Tanpa disadari, otak cenderung membandingkan kehidupan nyata dengan versi terkurasi dari kehidupan orang lain di media sosial.
Padahal, apa yang dibagikan jarang mewakili keseluruhan realitas.
Konten itu hanyalah momen-momen terbaik yang dipilih secara selektif.
Baca Juga: Sebelum Memberi Gadget, Orang Tua Wajib Tahu Ini Dulu
Tanda-tanda Kesehatan Mental Mulai Terganggu
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain merasa cemas saat tidak memegang ponsel.
Sulit merasa puas dengan kehidupan sendiri juga jadi sinyal penting.
Kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan unggahan orang lain secara terus-menerus juga patut diwaspadai.
Cara Menjaga Keseimbangan Diri
Membatasi durasi penggunaan media sosial harian adalah langkah pertama yang bisa dicoba.
Secara sadar mengikuti akun yang memberi dampak positif juga membantu.
Meluangkan waktu tanpa gawai setiap hari terbukti menjaga kestabilan emosi.
Kesehatan mental di era digital bukan soal menjauhi teknologi sepenuhnya.
Ini soal membangun kesadaran agar tidak terjebak dalam dunia yang dirancang untuk membuat kita terus membandingkan diri. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun