Jawa Pos Radar Madiun - Alarm berbunyi. Kamu sudah tidur 8 jam, tapi tubuh terasa seperti baru berlari maraton.
Kopi pertama tidak membantu. Kopi kedua juga. Jika ini terasa familiar, kamu bukan sendirian dan masalahnya bukan di jam tidurmu, melainkan di apa yang terjadi selama jam-jam itu.
Mengapa Durasi Tidur Bukan Satu-satunya Faktor
Tidur manusia terdiri dari beberapa siklus yang masing-masing berlangsung sekitar 90 menit.
Setiap siklus mencakup fase tidur ringan, tidur dalam (slow-wave sleep), dan REM (Rapid Eye Movement). Kualitas pemulihan fisik dan mental sangat bergantung pada seberapa sempurna siklus-siklus ini berjalan, bukan hanya seberapa lama kamu berbaring di kasur.
Faktor Pengganggu Kualitas Tidur yang Sering Diabaikan
Cahaya Biru dari Layar Gadget
Paparan cahaya biru dari smartphone dan laptop pada malam hari menekan produksi melatonin hormon yang mengatur siklus tidur.
Penelitian dari Harvard Medical School menunjukkan bahwa paparan cahaya biru dua jam sebelum tidur bisa menggeser ritme sirkadian hingga tiga jam.
Baca Juga: Berhenti Multitasking Sekarang, Sains Membuktikan Kamu Justru Jadi Lebih Bodoh
Suhu Ruangan yang Tidak Optimal
Suhu ideal untuk tidur berkualitas berada di kisaran 15-19 derajat Celsius.
Ruangan yang terlalu panas membuat otak kesulitan memasuki fase tidur dalam, meskipun kamu merasa sudah 'terlelap'.
Konsistensi Jadwal Tidur
Tidur larut malam di akhir pekan dan berharap bisa 'bayar utang tidur' pada Sabtu-Minggu adalah mitos.
Ritme sirkadian bekerja paling optimal dengan jadwal yang konsisten setiap hari, termasuk hari libur.
Panduan Praktis Sleep Hygiene
Pertama, hentikan penggunaan layar 60 menit sebelum tidur. Kedua, jaga suhu kamar tetap sejuk dan gelap.
Ketiga, buat rutinitas malam yang menenangkan, baca buku, meditasi ringan, atau stretching. Keempat, hindari kafein setelah pukul 14.00. Kelima, bangun di waktu yang sama setiap hari, bahkan di akhir pekan.
Perubahan ini tidak butuh peralatan mahal atau suplemen khusus.
Cukup konsistensi selama dua minggu, dan kamu akan merasakan perbedaan yang signifikan di cara tubuh dan pikiranmu bekerja sepanjang hari. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun