Jawa Pos Radar Madiun - Diskon 70%, gratis ongkir, baju trendi dengan harga secangkir kopi. Belanja online fashion hari ini terasa seperti festival tanpa henti.
Tapi di balik kemudahan dan harga murah itu, ada harga lain yang dibayar bukan oleh kita, melainkan oleh planet tempat kita tinggal.
Angka yang Membuat Tertegun
Industri fashion adalah penyumbang polusi terbesar kedua di dunia setelah minyak bumi.
Setiap tahun, sekitar 92 juta ton pakaian dibuang ke tempat pembuangan akhir di seluruh dunia. Untuk memproduksi satu kaos katun, dibutuhkan sekitar 2.700 liter air cukup untuk memenuhi kebutuhan minum seseorang selama 2,5 tahun.
Kenapa Fast Fashion Sangat Merusak?
Siklus Produksi yang Terlalu Cepat
Brand fast fashion bisa menghadirkan desain baru setiap minggu. Kecepatan ini memaksa penggunaan bahan sintetis murah seperti poliester yang tidak dapat terurai secara alami.
Setiap kali dicuci, pakaian sintetis melepaskan ribuan serat mikroplastik ke saluran air.
Baca Juga: Belajar Keras Tapi Nilai Tetap Biasa? Mungkin Caramu Belajar yang Salah
Limbah Pewarnaan yang Mencemari Sungai
Proses pewarnaan tekstil adalah salah satu penyebab utama polusi air industri.
Di beberapa kawasan produksi di Asia Selatan dan Tenggara, sungai berubah warna sesuai tren warna pakaian musim itu merah, biru, atau hijau.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Beralih ke slow fashion bukan berarti harus beli baju mahal. Mulai dengan membeli lebih sedikit tapi lebih berkualitas.
Eksplorasi pasar thrift atau platform jual-beli baju bekas. Perbaiki pakaian yang rusak alih-alih langsung membuangnya. Pilih brand yang transparan soal rantai produksinya.
Satu keputusan pembelian mungkin terasa kecil. Tapi jika jutaan orang membuat keputusan yang sama, dampaknya sangat nyata.
Mode bertanggung jawab bukan tren ia adalah kebutuhan mendesak yang tidak bisa ditunda lagi. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun