Kamu sudah googling 'cara resign dengan baik' lebih dari sekali. Tapi rekening tabungan memberitahumu untuk berpikir dua kali. Kamu tidak sendirian dan ada lebih banyak pilihan daripada dua ekstrem antara 'bertahan menderita' atau 'resign dan berharap terbaik'.
Memahami Akar Kebosanan Kerja
Kebosanan kerja jarang tentang pekerjaannya sendiri secara harfiah. Lebih sering, ini adalah gejala dari salah satu kondisi berikut.
Kurang tantangan baru, konflik nilai dengan budaya perusahaan, hubungan buruk dengan atasan atau rekan kerja, atau kelelahan mental yang terakumulasi. Mendiagnosis akarnya adalah langkah pertama sebelum membuat keputusan apapun.
Quiet Quitting: Strategi atau Jebakan?
Quiet quitting bekerja sesuai deskripsi jabatan, tidak lebih sempat viral sebagai simbol perlawanan terhadap budaya hustle yang berlebihan.
Ada kebenaran di baliknya: menetapkan batas sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi adalah hal yang sehat. Tapi jika quiet quitting lahir dari kepahitan dan berujung pada stagnasi karier, ia bisa menjadi penjara yang lebih nyaman tapi tetap penjara.
Baca Juga: Makanan Fermentasi Kini Jadi Tren Global, Indonesia Sudah Punya Semuanya dari Dulu
Alternatif Praktis Sebelum Resign
Job Crafting Rancang Ulang Pekerjaanmu
Job crafting adalah praktik secara proaktif mengubah tugas, hubungan, atau cara pandang terhadap pekerjaanmu untuk meningkatkan makna dan kepuasan.
Ini bisa sesederhana meminta proyek baru, membangun relasi dengan tim yang berbeda, atau menemukan kembali 'mengapa' di balik pekerjaanmu.
Bicarakan dengan Atasan
Percakapan jujur tentang kebutuhan pengembangan karier sering diabaikan karena rasa takut.
Padahal, atasan yang baik lebih memilih karyawan berkontribusi yang mengajukan perubahan daripada karyawan diam tapi tidak produktif yang akhirnya resign tanpa peringatan.
Bangun Portofolio Paralel
Gunakan waktu luang untuk membangun keterampilan atau proyek sampingan yang relevan dengan karier impianmu.
Tidak harus langsung menghasilkan uang tapi memiliki 'pintu keluar yang disiapkan' memberikan rasa kontrol yang signifikan terhadap stres kerja.
Keputusan karier terbaik jarang yang paling impulsif. Berikan dirimu waktu tiga bulan untuk mencoba setidaknya dua strategi di atas.
Jika setelah itu kamu masih ingin resign setidaknya kamu melakukannya dengan kepala dingin dan persiapan matang. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun