Jawa Pos Radar Madiun - Suatu hari, seorang insinyur muda bernama Kikuo Ibe menabrak seseorang di jalan.
Jam tangan pemberian ayahnya yang sedang ia kenakan terlepas, jatuh ke aspal, dan hancur berkeping-keping.
Dari peristiwa kecil yang menyakitkan itu lahirlah obsesi yang mengubah industri jam tangan dunia selamanya.
Casio Bukan Lahir dari Dunia Jam Tangan
Sebelum dikenal sebagai produsen jam tangan legendaris, Casio adalah perusahaan elektronik asal Jepang yang pertama kali tenar lewat kalkulator.
Berdiri sejak 1957, Casio membangun reputasinya di bidang perangkat elektronik inovatif sebelum akhirnya melirik industri jam tangan pada awal 1970-an.
Pada 1974, Casio merilis CASIOTRON jam tangan digital pertama di dunia yang dilengkapi kalender otomatis tanpa perlu koreksi manual, sebuah lompatan teknologi yang menggemparkan pasar jam tangan global kala itu.
Baca Juga: Wujudkan Kampus Berdampak, FEB UNIPMA dan BTPN Syariah Gelar Expo UMKM 2026
Dari Mimpi "Triple 10" hingga Ratusan Prototipe
Setelah kejadian jam tangan ayahnya hancur, Ibe mulai berangan-angan: bagaimana jika ada jam tangan yang benar-benar tidak bisa rusak?
Ia menetapkan standar "Triple 10" ketahanan baterai 10 tahun, tahan air hingga 10 bar, dan mampu bertahan dari jatuh setinggi 10 meter.
Tim kecil yang dibentuk Ibe menguji hampir 200 prototipe, dan semuanya masih hancur saat dijatuhkan atau dibanting.
Inspirasi dari Taman Bermain yang Mengubah Segalanya
Titik balik datang dari tempat yang paling tidak terduga: sebuah taman bermain.
Ibe memperhatikan bahwa pusat bola karet tidak bergetar saat dipantulkan ke permukaan keras energi benturannya diserap secara merata ke seluruh permukaan bola.
Dari situ lahir konsep "floating module"mesin jam tidak melekat langsung pada case, melainkan "mengambang" di dalamnya sehingga benturan dari luar tidak langsung menghantam komponen sensitif.
Uji Coba Paling Ekstrem dalam Sejarah Jam Tangan
Proses pengujian G-Shock tidak kalah ekstremnya dari konsepnya.
Ibe menjatuhkan prototipe berkali-kali dari lantai tiga gedung, dan memilih menggunakan tangga bukan lift saat memeriksa kondisi jam setelah jatuh, supaya pikirannya punya waktu untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Sebuah acara televisi bahkan pernah memukul G-Shock dengan stik hoki dan melindasnya dengan truk dan jam itu tetap berfungsi normal.
Baca Juga: Tak Sekedar Comeback, Hearts2Hearts Ramaikan 'Lemon Tang' dengan Deretan Kolaborasi Unik
Booming di Amerika, Dikira Produk Lokal
Saat diluncurkan di Jepang pada April 1983, G-Shock kurang mendapat sambutan hangat karena masyarakat Jepang saat itu lebih menyukai jam tangan formal.
Casio kemudian memasarkannya ke Amerika Serikat dan respons pasar di sana luar biasa.
"Bahkan masyarakat Jepang menyangka bahwa G-SHOCK ini produk Amerika, karena berkembang pesat di sana," ujar Ibe.
Warisan yang Terus Berkembang
Dari satu model tahan banting pada 1983, G-Shock berkembang menjadi lebih dari 200 model pada akhir 1990-an dengan penjualan global mencapai 19 juta unit.
Teknologi terus ditambahkan: sensor suhu, baterai tenaga surya, sinkronisasi waktu via radio, hingga Bluetooth untuk koneksi ke ponsel.
Semua bermula dari sebuah jam tangan pemberian ayah yang jatuh dan pecah di jalanan Tokyo.
Itu bukan sekadar kecelakaan kecil itu adalah awal dari jam tangan paling tangguh yang pernah dibuat manusia. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun