Jawa Pos Radar Madiun - Langkah besar dalam program hilirisasi energi bersih dan kemandirian bahan bakar nasional kembali memasuki babak baru yang lebih progresif.
Pemerintah secara resmi mulai menerapkan aturan wajib penggunaan bahan bakar biodiesel B50 yang merupakan campuran 50 persen bahan bakar nabati kelapa sawit dan 50 persen minyak solar.
Menyikapi kebijakan baru tersebut, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, menilai transisi ini tidak akan memicu guncangan teknis yang berat pada kendaraan.
Kendaraan bermesin diesel yang selama ini sudah terbiasa menenggak sisa bahan bakar B40 diklaim bakal langsung mampu beradaptasi dengan karakter formula baru ini tanpa kendala berarti.
"Karena Indonesia sudah menerapkan B40 lebih dari setahun, efek pelarut biodiesel B50 dalam membersihkan endapan lama di tangki dan saluran sudah jauh berkurang," kata Yannes, Rabu (1/7).
Baca Juga: Antrean Biosolar di Jatim Mulai Terurai, Pertamina Tambah Pasokan BBM
Analisis Efisiensi Emisi dan Karakteristik Konsumsi Biodiesel B50
Yannes memaparkan bahwa dari aspek dampak lingkungan, penggunaan campuran bahan bakar nabati yang lebih tinggi ini otomatis akan membuat tingkat emisi gas buang kendaraan menjadi jauh lebih ramah.
Formula B50 terbukti secara klinis mampu menekan tingkat produksi gas karbon monoksida berbahaya serta meminimalisasi ketebalan asap hitam yang keluar dari sistem knalpot.
Kendati demikian, para pemilik kendaraan diesel juga harus bersiap menghadapi konsekuensi logis berupa konsumsi bahan bakar yang sedikit lebih boros dari biasanya.
"Dari sisi emisi, B50 masih lebih baik karena menghasilkan karbon monoksida dan asap yang lebih rendah, tapi, walau tidak signifikan, B50 sedikit lebih boros karena nilai kalornya lebih rendah," jelasnya merinci.
Namun secara garis besar, Yannes menjamin performa tarikan mesin dan daya dorong kendaraan B50 ini tidak akan memperlihatkan perbedaan yang mencolok dibandingkan saat menggunakan B40.
Baca Juga: Cerpen Wayang Kutukan Aswatama 1: Panah Pasupati Tak Mampu Renggut Nyawanya
Panduan Pemeliharaan Mesin dan Sektor Penggunaan Massal
Mengenai pola pemeliharaan berkala, para pengguna mobil diesel tidak perlu melakukan kepanikan dengan langsung mengganti komponen filter bahan bakar pada awal-awal masa pengisian.
Hal ini karena tingkat endapan kotoran di dalam tangki dinilai sudah terkikis habis selama masa penggunaan siklus bahan bakar B30 dan B40 pada tahun-tahun sebelumnya.
Meski begitu, Yannes memberikan catatan khusus bagi para pemilik mobil diesel berusia tua untuk lebih rajin melakukan pembersihan tangki dan mempercepat ritme penggantian filter bensin.
Sifat cairan biodiesel B50 yang dikenal sedikit lebih agresif juga menuntut pemilik kendaraan untuk rutin memeriksa kelayakan kondisi karet penyekat (seal) di sepanjang jalur bahan bakar.
"Dengan perawatan normal yang konsisten, kendaraan diesel dapat menggunakan B50 dengan aman dan optimal," kata peneliti senior ITB tersebut memberikan rekomendasi.
Sementara itu, pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui juru bicaranya memastikan bahwa seluruh sektor industri nasional telah berada dalam posisi siap menyerap pasokan B50.
Sebelum aturan ini resmi diketok, rangkaian uji coba teknis telah sukses dieksekusi pada berbagai moda transportasi berat mulai dari kapal laut, kereta api, kendaraan tambang, alat berat, hingga mesin pertanian. (naz)
Editor : Mizan Ahsani