Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Insentif Pajak Dipangkas, Penjualan Mobil Listrik di China Merosot sepanjang Paruh Pertama 2026

Dony Christiandi • Rabu, 8 Juli 2026 | 17:36 WIB
Ilustrasi pameran mobil listrik. (Antara)
Ilustrasi pameran mobil listrik. (Antara)

Jawa Pos Radar Madiun - Peta persaingan industri otomotif ramah lingkungan di tingkat global kini tengah mengalami pergeseran arah akibat dinamika yang terjadi pada pusat produksinya.

Meskipun masih menjadi pasar kendaraan elektrik baru terbesar di dunia, angka penjualan mobil listrik di China mulai menurun dan kondisi tersebut mendorong produsen kendaraan domestik untuk mengarahkan penjualan ke pasar luar negeri.

Langkah ekspansi ke luar yurisdiksi ini diambil sebagai strategi penyelamatan korporasi di tengah jenuhnya permintaan serta ketatnya persaingan harga di pasar lokal.

Data awal dari China Passenger Car Association yang dikutip dalam siaran Carscoops pada Selasa menunjukkan mobil listrik berbasis baterai (BEV) dan mobil hibrida plug-in (PHEV) yang terjual di China pada Juni 2026 sebanyak 1,04 juta unit, tujuh persen lebih rendah dibanding angka penjualan pada Juni 2025.

Kontraksi pasar ini terlihat semakin jelas jika diakumulasikan sepanjang kuartal pertama hingga kuartal kedua pada tahun berjalan.

Angka penjualan BEV dan PHEV di China pada paruh pertama tahun 2026 tercatat merosot 13 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 4,73 juta unit.

Baca Juga: Dominasi Olahraga Balap, Tujuh Pembalap Yamaha Sabet Penghargaan Bergengsi IMI Awards

Dampak Pengurangan Subsidi Pemerintah dan Sentimen Ekonomi

Kelesuan daya beli masyarakat terhadap kendaraan masa depan ini dipicu oleh perubahan regulasi fiskal serta situasi finansial makro yang belum sepenuhnya pulih.

Faktor yang mempengaruhi penurunan penjualan kendaraan elektrik di negara itu antara lain berkurangnya dukungan pemerintah terhadap penggunaan kendaraan energi baru serta kondisi perekonomian yang kurang stabil yang mendorong banyak konsumen memilih menunggu harga turun.

Sikap menahan diri dari para calon konsumen membuat stok di tingkat diler menumpuk, sehingga memaksa pabrikan memutar otak untuk mencari aliran pendapatan baru.

Menurut laporan South China Morning Post, Beijing awal tahun ini menyesuaikan kebijakan subsidinya dan mulai secara bertahap menghapus keringanan pajak penjualan bagi produsen kendaraan listrik.

Kebijakan pengetatan fiskal tersebut dipastikan akan terus berlanjut hingga beberapa periode anggaran ke depan sesuai dengan garis kebijakan linimasa pemerintah.

Potongan pajak kendaraan tahunan yang tersedia bagi mobil listrik berbasis baterai, PHEV, mobil hibrida dengan range extender, serta kendaraan komersial berbahan bakar sel hidrogen akan dikurangi mulai 1 Januari 2027.

Penghapusan stimulus ekonomi ini secara langsung menghilangkan hak istimewa finansial yang selama ini dinikmati oleh para pemilik kendaraan ramah lingkungan.

Keringanan pajak tersebut dapat membuat pembeli menghemat biaya sekitar 360 yuan hingga 660 yuan per tahun.

Baca Juga: Pelaku Pelecehan Seksual di Madiun Dibekuk Dua Menit setelah Laporan Masuk

Konsolidasi Industri dan Lonjakan Target Ekspor Global

Di tengah tekanan pasar yang begitu berat, hanya segelintir raksasa otomotif yang dilaporkan masih mampu menjaga neraca keuangan mereka tetap berada di zona hijau.

BYD, Xiaomi, dan Leapmotor merupakan tiga produsen kendaraan listrik asal China yang saat ini masih mencetak keuntungan.

Sementara bagi para pemain baru atau korporasi dengan modal terbatas, masa depan industri ini diprediksi akan berjalan sangat kejam.

Menurut AlixPartners, hanya sekitar empat perusahaan lain yang berpotensi mencapai titik impas pada 2030, sementara banyak perusahaan yang lebih lemah diperkirakan bangkrut atau diakuisisi oleh merek yang lebih besar.

Menghadapi risiko likuidasi di negeri sendiri, gelombang pengiriman unit kendaraan ke berbagai negara tujuan internasional kini menjadi prioritas utama.

Karena semakin sulit memperoleh untung, perusahaan-perusahaan otomotif kini mengarahkan perhatian ke pasar luar negeri.

Para analis meyakini produsen kendaraan asal China dapat menutup tahun 2026 dengan mengekspor sekitar 10 juta kendaraan, meningkat sampai 41 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
#penjualan mobil listrik #mobil listrik #china