Jawa Pos Radar Madiun - Pasar kendaraan roda empat setengah pakai di dalam negeri terus menunjukkan tren pergerakan yang dinamis seiring tingginya minat masyarakat terhadap moda transportasi personal yang ekonomis.
Namun, dalam proses transisi kepemilikan aset, terutama untuk unit yang pernah digunakan sebagai penunjang kerja korporasi, diperlukan ketelitian ekstra agar kedua belah pihak mendapatkan nilai transaksi yang adil.
Perusahaan inspeksi kendaraan Garasi.id menilai ada empat titik yang diperhatikan konsumen sebelum membeli mobil bekas operasional perusahaan, terutama untuk kendaraan yang berusia empat-lima tahun.
Pemahaman terhadap bagian-bagian krusial ini penting bagi pihak penjual agar dapat mempersiapkan kondisi unit secara transparan dan profesional sebelum masuk ke meja perundingan.
Dalam siaran pers di Jakarta, Selasa, CEO Garasi.id Ardy Alam menilai perusahaan bisa kehilangan nilai jual hingga puluhan juta rupiah karena mereka tidak memiliki data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional saat proses negosiasi.
Menurut Garasi.id, terdapat empat titik kritis yang paling sering dijadikan dasar oleh calon pembeli untuk menawar harga kendaraan secara signifikan di lapangan.
Bagian pertama yang menjadi fokus utama dalam penilaian kelaikan unit adalah integritas komponen penyangga utama kendaraan.
Struktur bodi dan tulang sasis menjadi titik awal pemeriksaan karena berkaitan langsung dengan faktor keselamatan berkendara jarak jauh.
Pembeli profesional umumnya memeriksa kelurusan garis bodi, bekas pengelasan ulang, maupun cat yang tidak rata pada area kompartemen mesin dan bagasi.
Apabila dicurigai pernah mengalami benturan, meski hanya ketokan ringan dari perbaikan minor, kondisi tersebut dapat menjadi alasan kuat bagi konsumen untuk memangkas harga jual hingga puluhan juta rupiah.
Baca Juga: Sidang Maidi Bongkar Komitmen Fee Proyek DPUPR, PL 10 Persen Tender 4 Persen
Titik kedua yang tidak kalah krusial dipantau adalah kondisi sektor penyalur daya atau transmisi matik.
Pada mobil operasional yang sering digunakan di lalu lintas padat perkotaan, beban kerja komponen penggerak otomatis ini tergolong sangat berat.
Gejala mekanis seperti perpindahan gigi yang sedikit menghentak (jerking) atau terlambat merespons kerap dijadikan alasan pembeli meminta potongan harga dengan dalih estimasi biaya perbaikan transmisi yang tinggi di bengkel resmi.
Bagian ketiga yang paling sering dieksplorasi oleh calon konsumen saat melakukan peninjauan fisik adalah area kolong mobil dan komponen suspensi.
Kondisi jalanan yang tidak menentu membuat bagian kolong mobil dan kaki-kaki juga menjadi yang paling sering dijadikan titik tawar oleh calon pembeli.
Bunyi asing maupun keausan pada suspensi, tie rod, dan bushing akibat penggunaan intensif harian sangat mudah terdeteksi saat sesi uji berkendara (test drive).
Masalah pada area ini sering dianggap sebagai indikasi perlunya penggantian komponen secara menyeluruh yang membutuhkan dana tidak sedikit.
Kondisi terakhir yang menjadi penentu akhir dari nilai jual sebuah unit adalah kebocoran dan kompresi mesin.
Hadirnya rembesan oli tipis pada area blok mesin kerap dibesar-besarkan oleh pembeli sebagai tanda awal kerusakan parah yang membutuhkan biaya perbaikan besar, meski pada kenyataannya kondisinya belum tentu demikian dan hanya membutuhkan penggantian paking karet yang murah. (naz)
Editor : Mizan Ahsani